Between the Loops: How a Local Community Taught Me to Use Street View for Storytelling

Saya pikir saya sudah tahu semua trik di Google Maps. Sebagai Local Guides dan Connect Moderator, saya menggunakan aplikasi ini setiap hari. Tapi baru-baru ini, saya mengikuti sebuah acara komunitas lokal yang justru mengajari saya cara baru menggunakan aplikasi favorit kita ini. Mereka tidak menggunakan fitur Google Maps sekadar untuk navigasi. Mereka menggunakannya sebagai bahan storytelling yang ampuh.

Street View untuk Bercerita
Momen itu terjadi saat saya sedang berjalan menyusuri kota kelahiran saya, Blitar, bersama komunitas lokal bernama Gang-gangan. Ketika kami berhenti di depan sebuah bangunan di ujung jalan, admin Gang-gangan Mas Rakha tidak hanya menjelaskan sejarahnya secara lisan.

Dia mengeluarkan tabletnya, membuka Street View, lalu menekan fitur “Lihat tanggal lainnya” untuk mengajak melihat bangunan yang sama di tahun yang berbeda.

Di situlah saya sadar: Street View bukan sekadar peta visual. Fitur ini adalah bahan storytelling yang luar biasa untuk menunjukkan perubahan zaman, degradasi bangunan, atau pergeseran wajah kota. Ini tips sederhana tapi “mahal” yang pasti akan saya bawa ke meet-up Local Guides saya berikutnya!

Pengalaman Menjadi Peserta
Biasanya, saya adalah host untuk beberapa in-person meet-ups. Tapi kali ini, saya memutuskan mundur sejenak untuk menjadi peserta. Saya suka “bertetangga” di komunitas lokal sekitar seperti saat saya ikut acara jelajah kampung arab bersama Jelajah Malang, ikut book party bersama Payung Literasi Malang. Nah Komunitas “Gang-gangan” yang saya ikuti kemarin adalah inisiatif unik. Mereka menekankan sejak awal: “Kami bukan walking tour. Ini adalah sebuah perjalanan dari gang ke gang.”

Saya bergabung dua kali (di Malang dan Blitar). Selain trik Street View tadi, ada banyak pelajaran berharga soal manajemen komunitas yang saya dapatkan:

1. Kolaborasi yang Inklusif (Wastra Experience)
Di acara Blitar, mereka berkolaborasi dengan Patria Wastra. Kode busana wajibnya adalah Wastra Indonesia. Yang membuat saya tersentuh adalah inklusivitas mereka. Tidak punya Wastra? Jangan khawatir. Panitia menyediakan kain pinjaman, bahkan membantu memakaikan dan menata (styling) kainnya untuk peserta! Pelayanan ini membuat semua orang merasa percaya diri dan menjadi bagian dari kampanye budaya tersebut.

Sejujurnya ikut acara ini berasa “saya banget”, karena saya pernah beberapa kali membuat meet-ups dengan menggunakan wastra sebagai dress code: Merdeka Photo Walk Malang dan World Tourism Day chapter Malang: Exploration walk and food crawl.

2. Etika Masuk Gang
Karena kami berjalan melewati pemukiman warga, mereka mengajarkan kearifan lokal yang indah:

  • Sapa Warga: Senyum dan sapaan sederhana kepada warga yang duduk di depan rumah menciptakan koneksi yang hangat. Pengalaman ini selalu menyenangkan bagi saya yang sejujurnya jarang ekplorasi di gang kecil kota Blitar.
  • Jangan Ada yang Tertinggal: Panitia terus-menerus mengingatkan untuk menghitung jumlah kami. “Pasukan lengkap? Jangan sampai ada yang ketinggalan.” Rasanya seperti keluarga sendiri. Kalau ada yang masih asyik berfoto, mereka secara “otomatis” menunggui. Kami juga menyeberang jalanan yang sibuk secara bersama-sama.

3. Plot Twist: Langkah Kembali ke 0
Judul acaranya adalah Blitar, “Langkah Kembali ke 0”. Ternyata ini membawa kami pada penemuan mengejutkan: Titik Nol Blitar yang asli BUKAN monumen yang di Alun-Alun kota Blitar, tapi di sebelah baratnya! Banyak warga lokal—termasuk saya—yang baru tahu fakta ini. Saya pun langsung memberi ulasan lokasi tersembunyi ini di Google Maps: review saya.

Sebagai Local Guides, saya merasa fakta seperti ini penting untuk diketahui agar sebagai Local Guides kita memberikan akurasi data yang tepat di Google Maps tentang sebuah lokasi.

Penutup yang Menggetarkan Hati
Perjalanan berakhir di pendopo alun-alun dengan cerita tentang “Batik Tutur” yang dibawakan oleh Mas Ryan dari komunitas Patria Wastra. Kami mendapat fakta pahit bahwa artefak asli dari motif batik khas ini sekarang tersimpan jauh di Museum Leiden, Belanda. Ia membentangkan kain dengan motif yang sama dengan yang ada di museum. Sebuah penutup yang emosional untuk hari yang sempurna.

Menjadi peserta di acara komunitas lain membuat saya melihat banyak hal dengan cara baru—mulai dari potensi Street View sebagai alat bercerita hingga hangatnya keramahtamahan komunitas. Biasanya sebagai host saya “pusing” menentukan konsep tema, tempat, dan printilan meet-up lainnya. Kali ini saat saya menjadi peserta, saya bisa lebih mempelajari pengalaman berjejaring dan bereksplorasi dengan lebih tenang dan nyaman.

Oh ya kegiatan ini sempat masuk berita lokal: merawat memori bangunan kuno, dan jika ingin mengetahui recap videonya bisa lihat video reels ini.

Jadi teman-teman Local Guides, sudah adakah yang menggunakan informasi Street View saat meet up? Coba ceritakan di kolom komentar bawah ini!


Saya akan memanggil teman-teman yang suka eksplorasi: @Dinithea @elyudith @amughits @ns_septi @doc_dells @AndiBrata @irulmusmus.

Seru sekali mbak @NunungAfuah acaranya :heart_eyes: jadi pengen ikutan jilid 2 nya deh.. semoga aja ada ya

Terima kasih sudah bercerita di sini, Mbak @NunungAfuah
Saya senang sekali melihat Kota Blitar yang rapi sekali dan komunitasnya yang berjalan dinamis. Gang-gangnya juga rapi. Di sisi lain, ada sisi humanis yang ditonjolkan dalam perjalanan ini, yaitu menyapa warga pada saat kita melalui rumah warga tersebut. Ini adalah bentuk adat kesopanan (unggah-ungguh) yang sedikit memudar.

Saya juga sering menggunakan Street View untuk pengeditan tempat dan jalan, Mbak. Saya berencana ingin bercerita tentang hal ini dalam artikel saya, kebetulan ini masih dalam proses pembuatan.

Menarik sekali, Mbak.
Kalau tentang nol kilometer di kota saya jangan ditanya, sangat mindblowing. Kayaknya bagus juga kalau dibuat menjadi sebuah artikel :rofl:

Jadi penasaran mas @ALG87, saya pengen tahu ceritanya.

menarik, saya ingin tahu tentang street view

Pengalaman yang menarik ikut jalan dan belajar tentang kota kita mbak @NunungAfuah . Untuk penggunaan Google Maps dan Google Street View sebenarnya sudah saya lakukan sejak 2020 sampai 2022 ketika mengadakan virtual tour pada masa pandemi. Saat itu saya diajak kerjasama sebuah platform digital untuk virtual tour Malang dan sekitarnya. Sepertinya akan saya tuliskan juga pengalaman tersebut ya :slight_smile:

Semoga ada yang edisi Malang ya @Dhatuardhan, kalau belum ada kita bikin sendiri hehe

Waahhh!!! Can’t wait Mas @ALG87! Pasti seru nih. Saya suka saat kita menemukan sesuatu “beyond Maps”.

Di area Jawa Timur ada teman-teman yang suka main Street View, Mas @elyudith, Mas @br14n, Mas @AndiBrata, @FahmiAdimara (dan masih banyak lainnya saya lupa).

Wah seru ini kalau dibuat artikelnya! Can’t wait to read Mbak @Dinithea :slight_smile:

Cara berkontribusi nya bagaimana?

Halo Mas @ISAIKBALULSURUR, untuk percakapan terbaru di Connect tentang Street View bisa baca ini: Capturing 360 photos. Kalau mau Tanya lebih detail bisa ikutan nimbrung di sana, hope it helps :slight_smile:

Wah seru sekali meet up-nya mbak @NunungAfuah. Saya baru tahu kalau titik 0 Blitar bukan yang di pojokan alun-alun, padahal saya menganggapnya itu adalah benar-benar titik 0. Dan setiap saya ke Blitar hampir selalu mengunjungi titik 0 yang di pojokan alun-alun. Untuk yang fitur google street view, saya sudah beberapa kali menggunakannya mbak tapi tidak secara sadar memakai fitur tersebut, seperti beberapa bulan yang lalu pas cari sebuah alamat, ternyata sekarang sudah tutup, jadi saya pengen cek apakah tempat itu ada atau hanya tempat fiktif, ternyata tempat tersebut beneran ada dan beberapa tahun sebelumnya sangat ramai, tapi entah kenapa di tahun 2024 tutup dan itu tergambar di bbeberapa street view di tahun yang berbeda. Thanks for the sharing mbak.

Kalau titik 0 Sidoarjo dimana ? @amughits :grin:

Mungkin, yang di alun-alun itu agar lebih mudah dibagikan pengunjung di media sosial mereka ya? @amughits. Kemarin pas meet up akamsi cerita kalau titik nol yang alun-alun itu menuai pro dan kontra.

Kalau Street View untuk penggunaan pribadi saya sering melakukannya. Jujur kalau untuk meet up sebagai materi eksplorasi belum pernah.

Bisa jadi mbak @NunungAfuah, titik 0 tersebut hanya untuk tujuan memudahkan promosi. Bisa juga mungkin lokasi di titik 0 tersebut bukan milik pemerintah, sehingga tidak memungkinkan dibangun tugu yang agak besar di tempat tersebut, dan yang paling memungkinkan ya di alun-alun karena jelas di lahan milik pemerintah.

Seneng banget dapet ilmu baru dan insight yang meaningful :heart_hands:t2:

Thanks for sharing, Mbakkuh :smiling_face_with_three_hearts:

Alhamdulillah saya merasa senang kalau tulisannya bermanfaat. Terima kasih sudah mampir membaca @ZulfiaKholifah :sparkles:

Sama-sama, Mbak :heart_hands:t2:

Titik nol itu digunakan pada masa kolonial sebagai penanda pusat kota biasanya. Dan wajar sekali karena ada perkembangan kota titik itu dipindahkan sehingga kadang menjadi lebih dari satu titik nol @NunungAfuah . Lain kali akan coba saya bahas di artikel lain ya karena di Malang sendiri ternyata ada 3 walaupun yang ada tugunya ada di dua lokasi