Tha Phae Gate - Chiang Mai Thailand

Melanjutkan cerita dari kunjungan saya ke Chiang Mai, Thailand Utara, serta meninggalkan jejak kontribusi di Google Maps, sebagai catatan pribadi dan semoga bermanfaat bagi pengguna Google Maps lain yang juga ingin berkunjung ke sana

Selain menikmati kuliner halal di Chiang Mai yang unik, lezat dan murah, saya juga mengunjungi beberapa peninggalan masa lalu di Chiang Mai. Salah satunya Tha Phae Gate.

Apa itu Tha Phae Gate dan di Mana Lokasinya?

Tha Phae Gate adalah 1 dari 5 gerbang menuju kota tua Chiang Mai. 4 yang lain adalah: Chang Puak Gate di sisi utara, Suan Dok Gate di sisi barat, Chiang Mai Gate & Suan Prung Gate di sisi selatan. Tha Phae Gate sendiri ada di sisi timur

Seperti yang terlihat dari tangkapan layar Google Maps di bawah ini, area kota tua Chiang Mai berbentuk persegi, dengan panjang tiap sisinya sekitar 1,5 kilometer.

Di dalamnya terdapat berbagai destinasi wisata yang sangat menarik, seperti Watchediluang Varaviharn, Three Kings Monument, dan banyak lagi

Tiap Minggu malam ada Chiang Mai Walking Street, semacam pasar malam yang digelar di sepanjang jalan Rachadamnoen, mulai dari Tha Phae Gate hingga tengah kota tua Chiang Mai, yang terkenal dengan barang-barang murah dan kuliner unik nan lezat

Bentuk Bangunan Tha Phae Gate

Tha Phae Gate, seperti namanya, memang berbentuk sebuah gerbang berpintu. Menurut berbagai referensi yang saya baca, Tha Phae Gate dibangun pada tahun 1296 oleh Raja Mangrai, ketika membangun Chiang Mai sebagai ibu kota baru Kerajaan Lanna.

Pintu Tha Phae Gate terbuat dari kayu yang besar dan kokoh. Engselnya besar. Dilengkapi roda di bagian bawah untuk mempermudah membuka dan menutup pintu kayu yang pastinya sangat berat itu

Bagian kanan dan kiri pintu merupakan sebuah bangunan benteng setebal 12 hingga 15 meter terbuat dari batu bata merah yang disusun rapi, memanjang mengelilingi kota tua Chiang Mai. Di sisi luar benteng dibangun sebuah parit sedalam 6 meter dengan lebar sekitar 12 meter.

Sekarang sebagian besar bangunan benteng sudah tidak ada. Namun masih ada beberapa bagian yang tersisa. Sedangkan paritnya masih ada semua dan terlihat masih sangat terawat. Beberapa air mancur dibuat di tengah parit untuk menambah daya tarik bagi para wisatawan.

Memberi Makan Burung Merpati di Pagi Hari

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan oleh para wisatawan adalah memberi makan ribuan burung merpati yang berdatangan tiap pagi hingga siang di Tha Phae Gate.

Selain itu juga ada yang memanfaatkan keberadaan burung merpati itu untuk melengkapi keindahan sesi foto pre-wedding di Tha Phae Gate

Belanja Street Food & Suvenir di Malam Hari

Di malam hari, para wisatawan bisa menikmati berbagai makanan dan minuman di Tha Phae Gate Night Market. Semacam pasar malam dadakan yang digelar warga lokal. Mereka menggunakan gerobak sepeda motor sehingga mudah untuk berpindah-pindah tempat jika diperlukan

Hampir semua penjual makanan dan minuman selalu mencantumkan harga di lapaknya sehingga memudahkan transaksi jika ada kendala bahasa

Selain penjual makanan dan minuman, ternyata saya juga menemukan beberapa penjual suvenir khas Thailand seperti aneka tas rajut, dompet rajut, dan sebagainya. Beberapa penjual mencantumkan harga suvenir tertentu, dan sebagian yang lain tidak mencantumkan. Ini menjadi tantangan tersendiri jika ada kendala bahasa dan apalagi jika harus tawar-menawar

Sebagai bonus, ternyata kadang kalau malam juga ada pertandingan olahraga sepak takraw di Tha Phae Gate. Para wisatawan boleh menonton secara gratis

Mari Tambahkan Cerita Kalian

Buat kalian warga lokal Chiang Mai, maupun siapa saja yang pernah berkunjung ke Chiang Mai, mari tambahkan cerita kalian. Atau jika ada bagian dari tulisan ini yang kurang tepat, mohon dikoreksi dan ditambahkan informasi yang tepat

Terimakasih!

7 Likes

Temboknya mirip dengan beberapa peninggalan Hindu di Indonesia ya mas @BudionoS. Seperti yang ada di Menara Kudus atau di beberapa tempat di Mojokerto. Selalu seru sekali membaca tulisannya!

Yes bener @NunungAfuah Tha Phae Gate dan tembok benteng Chiang Mai terbuat dari batu bata merah tanpa semen, ditumpuk-tumpuk dengan sistem interlock / saling kunci.

Selain Menara Kudus, bangunan kuno bekas peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto Indonesia juga mirip dengan itu tapi dengan ukuran batu bata yang lebih besar dan tebal.

Sama seperti beberapa bangunan candi di Indonesia, di Chiang Mai ini bangunan kuil seperti Watchediluang Varaviharn juga terbuat dari batu bata

Sedangkan di Indonesia, bangunan candi / kuil Hindu maupun Buddha juga ada yang terbuat dari batu andesit, seperti terlihat di Candi Prambanan (kuil Hindu) dan Candi Borobudur (kuil Buddha).

Mirip di India, bangunan Qutub Minar (akan saya tulis di artikel terpisah) juga terbuat dari batu andesit

1 Like

Waaaah sangat lengkap sekali penjelasnnya @BudionoS! Can’t wait for another post!

Terimakasih @NunungAfuah atas apresiasinya. Tunggu tulisan-tulisanku selanjutnya!

1 Like

Wah asyik banget menyimak cerita bro @BudionoS spot kotanya nampak bersih banget ya, destinasi yang masih jadi bucket list nih, semoga diberi kesempatan pergi kesana.

Terimakasih sudah berbagi cerita.

1 Like

ya sama2 bro @fachrie230 saya merasa jalan2 ke Chiang Mai itu seperti ke Yogyakarta kalau di Indonesia. ke mana-mana dekat, banyak spot menarik, dan murah!

1 Like