PART 1
Halo
Apa kabar teman teman local guide? semoga sehat dan bahagia selalu.
Late recap. (baru sempat posting recap meet up karena pekerjaan yang sedang hectic).
Tanggal 1 - 2 November 2025 lalu, Semarang Local guide mengadakan Food Crawl & Exploration walk.
Agenda meet up ini sudah kami submit di Local Guide Connect 3 minggu sebelum acara. Di luar prediksi, yang awalnya kami membuka kuota untuk 25 peserta saja, akhirnya kami harus menambah kuota karena begitu banyak pendaftar, bahkan beberapa masih registrasi online di hari H.
Hadir 38 peserta, berasal dari 14 kota di Indonesia.
Ini bisa menjadi salah satu pembuktian bahwa teman teman local guide di Indonesia cukup bersemangat baik dalam kontribusi online di maps, connect, maupun meet up offline.
Bagaimana keceriaan dua hari bersama teman teman local guide ini ? Yuk, ikuti cerita kami ya.
(Kami bagi jadi 2 part ya, agar tidak terlalu Panjang).
Day 1, Semarang City Tour.
Sabtu 1 November 2025
Sebenarnya ini adalah un-official agenda, karena di rencana awal kami hanya mengadakan one day trip di tanggal 2 November saja.
Kenapa perlu tambah agenda 1 hari ? Ya, karena banyaknya teman teman dari luar kota yang tiba di semarang dari tanggal 1 November, bahkan ada yang sudah tiba sebelumnya, jadi kami ingin membersamai dan menyambut mereka dengan City Tour, menulusuri dan menikmati indah dan hangatnya kota semarang, hangat cuacanya, hangat orang orangnya.
Ada 3 titik yg kita explore di hari ini.
- Explore Kota Lama Semarang
Di sini keseruan dimulai.
Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 sore, beberapa dari kami sudah berkumpul di area gereja Blenduk, sambil menunggu peserta lain.
Setelah semua hadir, kami berdiri melingkar untuk sesi perkenalan, masing masing say helo menyebut nama dan asal kota. Di antara kami ada yang sudah saling mengenal, dan beberapa adalah kawan baru.
Yang membuat explore kota lama ini menjadi lebih seru, karena dipandu oleh 3 panitia yang siap dengan story telling tentang kota lama dan semarang, mereka adalah Cik Maria dan Koh Jonathan dari Semarang LG dan Kak Nurdin dari Kebumen LG, kami menyebutnya sebagai panitia naturalisasi karena berasal dari kota lain, he he, sudah seperti pemain bola saja.
Fun Factnya, mereka adalah 3 sekawan yang di bulan oktober baru saja mengikuti pelatihan tour guide selama 2 minggu, jadi city tour kali ini sekaligus menjadi sarana buat Trio Maria – Jojo – Nurdin untuk mempraktekkan ilmu yang baru saja di dapat selama pelatihan. Challenge buat mereka bertiga.
Penelusuran kota lama, di mulai dari depan Hotel KOTTA. Cik Maria dengan semangatnya menceritakan sejarah bangunan banguan tua tersebut, dari mulai Gedung Weeskamer, Spiegel, Gedung Marba, Taman Srigunting, Gereja Blenduk, Gedung PT Asuransi Jiwa seraya, lalu gedung Ikan Bakar Cianjur, yang kesemuanya masih berada di seputaran gereja Blenduk.
Gedung Gedung tersebut bisa di katakan sebagai Ikon kota lama semarang, yang biasanya menjadi titik kumpul utama para pengunjung kota lama dan sekaligus sebagai tempat favorit berfoto ria.
Dengan strory telling yang menarik, peserta meet up serasa terbawa oleh mesin waktu, kembali ke masa abad 17, dimana kota lama ini dibangun oleh pemerintah hindia Belanda saat itu.
Banyak cerita seru.
Gedung MARBA yg ikonik, ternyata namanya adalah singkatan dari Marta Badjunet, seorang saudagar kaya dari Yaman pemilik Gedung tersebut. Gedung ini dulunya merupakan kantor Export Import dan perdagangan umum. Lalu ke seberang Gedung MARBA, kita membayangkan bagaimana dulu Tentara Belanda berlatih di area yang sekarang menjadi Taman Srigunting, juga bagaimana umat Kristiani di tahun 1700an beribadah di gereja GPIB Imanuel atau dikenal dengan nama gereja Blenduk
Fakta menarik lain di kota lama, konon Lift pertama di Indonesia ada di Gedung Jiwa Seraya (Seberang Gereja Blenduk), karena bentuknya yang kotak berjeruji, lift ini dinamakan sangkar burung.
Kita juga jadi tahu bahwa rumah makan Cianjur dulunya adalah Rumah seorang Pendeta dan pernah juga berfungsi sebagai Gedung Pengadilan, lalu Resto SPIEGEL dulunya merupakan TOSERBA di jaman Belanda.
Tak puas menjelajah di seputaran gereja Blenduk, lalu kami bergeser mengarah ke jalan lain yang di kenal dengan jalur gula.
Wah, apa lagi ini ? Ya, dinamakan jalur gula, karena di sepanjang jalan ini, berjajar bangunan bangunan megah yg dulunya dimiliki oleh Konglomerat Oei Tiong Ham yang lebih dikenal dengan julukan Raja Gula.
Dari Kawasan ini, beliau menjalankan bisnis gula international, dan menjadikannya sebagai Taipan terkaya di Asia Tenggara pada masa itu. Kami menelusuri jejak peninggalan kejayaan sang Raja Gula, dari mulai sebuah bangunan yang sekarang mejadi Restoran Pringsewu, Gedung RNI, Gedung Soesmans Kantoor, Gedung Monod Diephuis & Co, dan deretan bangunan lain.
Menarik bukan? kami menjadi lebih mengagumi bangunan bangunan Indah peninggalan masa Kolonial, setelah mengenal sejarah lebih jauh tentang bangunan tersebut. Jalan jalan happy sekaligus dapat insight baru.
2. Berpindah ke Lawang Sewu. Sebenaranya explore Kota Lama semarang masih belum tuntas, tapi kami harus taat agenda agar destinasi selanjutnya tidak terlewatkan.
Sekitar pukul 16.15 kami menuju Lawang Sewu, yang hanya berjarak kurang dari 3 KM. Sebagian menggunakan sepeda motor, waktu tempuh 10 menit. Sebagian lagi menikmati sensasi lain dengan naik transportasi publik kecintaan warga semarang yaitu BRT ( Bus Rapid Transit) Semarang. Harga Tiketnya Rp 4K untuk tunai dan Rp 3,5K non tunai.
Kami naik dari halte Jl Bubakan ( dekat Museum Kota Lama) dan turun di halte Balaikota, lalu berjalan kaki sekitar 550 meter menelusuri trotoar Indah di sepanjang jalan Pemuda ke Lawang Sewu.
Sekitar pukul 16.45 kami berkumpul di area depan loket ticketing Lawang Sewu.
HTM 20k untuk tiket masuk saja, atau 30k untuk tiket terusan nonton Immersive lawang sewu.
Pemandu Wisata Lawang Sewu sudah siap membersamai kami, beliau Adalah Pak Aris.
Lagi lagi, kami seolah di bawa ke masa lalu. Pak Aris menceritakan dengan detail tentang sejarah, arsitektur bangunan, dan juga klarifikasi tentang mitos mitos yang berkembang mengenai lawang sewu.
Ini yang penting, karena banyak image angker atau mistis tentang Lawang sewung, yang sejatinya itu tidak benar.
Pak Aris dengan diselingi joke joke yang menghidupkan suasana, menuntun kami menyusuri lorong demi lorong, pintu demi pintu, cerita demi cerita, dan kembali lagi lelucon demi lelucon.
Sedikit fun fact tentang lawang sewu :
Lawang sewu adalah sebutan yang diberikan oleh masyarakat sekitar untuk bangunan ini, karena jumlah pintunya yang sangat banyak. Lawang sewu artinya Pintu seribu. Tapi tahukah berapa sebenarnya jumlah pintu di lawang sewu ? jumlahnya adalah 928 pintu. Jika tidak yakin, teman teman boleh membuktikan sendiri saat nanti berkunjung, silahkan menghitung satu satu, he he
Lorong bawah tanah lawang sewu yang sering di mitoskan dengan hal hal angker, sebenarnya diperuntukkan sebagai AC alami dengan sistem pendingin berbasis air. Memang, saat pendudukan jepang, Lorong bawah tanah ini beralih fungsi sebagai penjara bagi tawanan jepang, dan menjadi saksi bisu sejarah kelam dimana banyak korban yang di tahan dan disiksa di terowongan ini.
Setelah 10 tahun di tutup untuk umum, kini Lawang Sewu membuka Kembali wahana Lorong bawah tanah dengan HTM 50K ( sudah termasuk biaya pemandu). Pengunjung bisa menelusuri lorong gelap, di bekali senter dan menggunakan pakaian APD. Tertarik untuk datang ?
Setelah menelusuri kemegahan arsitektur lawang sewu, pukul 18.00 kami menonton Immersive film. Sangat menarik, film berdurasi 15 menit ini bercerita tentang sejarah Lawang Sewu dan perkereta-apian di Indonesia, dalam kemasan immersive film yang memesona.
Film selesai dan di luar gedung hujan pun turun, membuat suasana sore jelang malam di Semarang menjadi lebih sejuk.
Kami lalu bergegas menuju titik lain, yaitu Museum Ronggowarsito di Kawasan Kalibanteng Semarang, karena kami akan berkeliling kota menaiki bus Wisata Denok Kenang yang starting pointnya di area museum ini.
3. Keliling Semarang Naik Bus Wisata Denok Kenang.
Kami tiba di Museum Ronggowarsito menjelang pukul 19.00, sesuai jadwal pemberangkatan bus wisata Denok Kenang.
Bus Wisata Denok Kenang ini, adalah sarana wisata gratis yang di sediakan oleh Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Semarang bagi warga atau wisatawan yang ingin mengeliligi kota semarang.
Untuk rute pagi sampai sore ( jam 08.00, pukul 11.00 dan 15.00) , penumpang umum disediakan rute sabtu dan minggu saja, sementara untuk rute malam hari ( jam 19.00), di buka rute setiap hari.
Penumpang cukup mendaftar on the spot dengan memberikan kartu identitas ( KTP), satu kartu identitas bisa mendapatkan 2 kursi. Hanya saja, karena banyak peminat, terkadang ketika kita datang mendaftar sudah tidak tersedia kursi, atau harus menunggu pemberangkatan di beberapa jam berikutnya. Untuk meet up ini, panitia sudah berkirim surat ke pengelola bus wisata gratis, sehingga kami mendapatkan spot satu unit bus untuk rombongan Meet Up Semarang Local Guide.
Selama perjalanan menelusuri kota semarang, lagi lagi trio Maria – Jonathan – Nurdin menjelaskan tentang rute rute yang sedang di lewati, bangunan atau sarana publik yang ada di kanan kiri jalan, Sejarah serta hal hal menarik tentang Lokasi tersebut. Biasanya, yang berugas menjelaskan tentang rute ini adalah petugas dari Bus Wisata, tetapi kali ini, kami berinistiatif untuk “open mic” dan biarkan trio LG ini yang mengambil alih dan petugas sesekali duduk manis.
Rute awal menelusuri jalan utama di semarang menuju ke Kawasan Kota Lama. Bus berhenti di area TITIK NOL KM, dan memberikan waktu 30 menit bagi penumpang untuk berjalan jalan menelusuri kota lama semarang.
Semesta mendukung, selama 30 menit berhenti di area Kota Lama, hujan pun reda, jadi kami bisa lebih nyaman menelusuri Kota Lama di malam hari, yang berbeda dengan suasana siang tadi.
Tepat 30 menit kemudian, kami sudah kembali ke bus, untuk melanjutkan menelusuri indahnya jalan jalan semarang di malam hari.
Rute Kembali melewati jalan jalan utama, menuju ke area Simpang Lima, beberapa dari kami turun disini dan sebagian lagi lanjut sampai kembali ke titik pemberangkatan di Museum Ranggawarsita.
Alhamdulillah, City Tour hari itu ditutup dengan sangat Indah, semua bahagia dan terkesan.
Sebagian dari kami pulang ke tempat masing masing, dan sebagian berlanjut kulineran malam di Pasar Semawis, merupakan kuliner kebanggaan Kota Semarang yang sempat tutup beberapa waktu lalu dan kini di buka kembali.
Setelah puas kulineran, kami pulang beristirahat untuk melenjukan petualangan berikutnya esok hari.
Sekian cerita untuk Day 1, bagaimana teman2, seru kan ?
Nanti lanjut Part 2 untuk cerita keseruan Day 2 ya, see you.
( bersambung ke PART 2)
Terima kasih untuk teman teman panitia dan teman teman local guide yang sudah join di meet up Day 1.










