I Came for Soto Kudus, but the Tempe Stole the Show #MONOLOGUE

When I set out for lunch that day, I had only one thing on my mind: a warm bowl of Soto Kudus. Little did I know that my simple lunch plan would turn into an unexpected tempeh adventure.

This post is my contribution to the Challenge for The June Tempeh Marathon #MONOLOGUE, initiated by @Velvel and @doc_dells , celebrating the versatility and global appeal of tempeh through the eyes of Local Guides.

This story took place at Soto Kudus asli Taman Bojana, where I unexpectedly discovered four different tempeh dishes alongside my meal.

As soon as I arrived at the eatery, I ordered a bowl of Soto Ayam Kudus and found a seat while waiting for my meal.

The place was modest and welcoming, the kind of local eatery where people gather for a comforting lunch.

While waiting, my attention was drawn to the food display near the counter.

This was where the story unexpectedly changed.

I originally planned to enjoy nothing more than Soto Kudus, but the showcase revealed something far more interesting: several different preparations of tempeh.

I spotted tempe goreng, tempe menjes, tempe bacem, and even tempeh chips. Curiosity quickly took over, and I decided to try them all.

A few minutes later, everything arrived at my table.

Inspired by @Velvel’s photography tips, I photographed the meal from different angles before taking my first bite, capturing both the complete spread and each tempeh dish individually.

At first glance, the Soto Ayam Kudus was exactly what I had been craving.

The broth was warm and comforting, making it a perfect choice for lunch.

But surprisingly, the side dishes soon became the stars of the meal.

The first one I tried was tempe goreng.

Simple yet satisfying, it offered a crispy exterior with a nutty flavor that highlighted the essence of tempeh itself.

Next came tempe menjes.

Among all the dishes, this one felt the most distinctive. Its unique texture and flavor profile reminded me how diverse Indonesian fermented foods can be.

Then I moved on to tempe bacem.

Sweet, savory, and infused with traditional spices, it showcased another side of tempeh that was completely different from the fried version.

Last but not least were the tempeh chips.

Thin, crunchy, and incredibly addictive, they provided yet another texture and experience from the same humble ingredient.

By the end of the meal, I realized something interesting.

Before leaving, I shared my experience on Google Maps, highlighting not only the Soto Kudus but also the unexpected variety of tempeh dishes that made this lunch memorable.

I came for Soto Kudus, but I left with a story about tempeh.

Four different preparations, four different flavors, four different textures, all from the same ingredient.

Experiences like this remind me why tempeh deserves to be celebrated beyond borders. It is humble, versatile, deeply rooted in Indonesian culinary culture, and capable of transforming into countless delicious forms.

As a Local Guide, some of the most memorable discoveries are the ones we never planned for.

Have you ever visited a place for one specific dish, only to find something else that completely stole the spotlight?

23 Likes

Kalau diluar saya dah jarang ambil tempe, tapi tahu sering ambil. Alasannya? Karena ga mau rugi hahaha karena tempe suka dipotong kecil2. Tapi favorit saya tempe mendoan sih

3 Likes

Hahaha, alasan yang sangat masuk akal Bu @ririsnurbintari :grinning_face_with_smiling_eyes:
Memang ada beberapa tempat yang potongan tempenya bikin kita berpikir dua kali. Tempe mendoan juga favorit saya.

Kalau boleh pilih, Bu Riris tim mendoan tipis renyah atau mendoan tebal yang masih lembut di dalam? :grin:

mendoan tebal dong (tetep ga mau rugi hahaha), dulu pas tinggal di Cikarang, ada penjual tempe mendoan yang enak banget. so far meski nemu tempe mendoan yang juga enak, belum nemu yang seenak disana. kalau lembut, setengah matang tapi enaknya dimakan langsung pas masih panas/anget, gitu mas @JeffryRisandy

2 Likes

Saya suka tempe mendoan karena ada bumbu di tepungnya. Untuk tempe goreng, jujur saya pribadi belum bisa menggoreng tempe yg mirip dengan tempe yg dijual di luar entah kenapa :grimacing:. Terima kasih sudah berbagi cerita Mas @JeffryRisandy.

2 Likes

Hehe, saya suka prinsipnya, tetap cari yang paling worth it alias “nggak mau rugi” ya Bu @ririsnurbintari :laughing:

Memang mendoan paling nikmat saat masih hangat, bagian dalamnya masih lembut dan aromanya masih keluar. Kadang ada satu tempat yang rasanya begitu membekas sampai susah menemukan yang bisa menandinginya. Semoga nanti ketemu lagi “the next legendary mendoan” ya bu, yang bisa menyaingi mendoan favoritnya yang ada di Cikarang itu. :grin:

1 Like

Yap, memang bumbu tepungnya itu yang bikin gurih dan nagih ya Mbak @NunungAfuah
Dan sepertinya tempe mendoan masih menjadi primadona di negeri ini. :face_savoring_food:

Ya ya ya ternyata bukan saya saja yang merasa begitu. :laughing:
Tempe goreng memang terlihat simpel, tetapi entah kenapa yang dijual di luar sering terasa lebih renyah dan lebih gurih. Kalau pengalaman saya itu yang penting menggoreng tempe jangan sampai ditinggal seperti saat menggoreng tahu hehe. Kalau suatu hari berhasil menemukan resep rahasianya, jangan lupa dibagikan yak. :grin:

Terima kasih sudah mampir dan berbagi pengalamannya menggoreng tempe ya Mbak. :raising_hands:

2 Likes

Terima kasih, Mas @JeffryRisandy sudah berpartisipasi dalam challenge #MONOLOGUE :raising_hands:t2:
Berkat challenge ini, yang tadinya mau nikmatin Soto Kudus, jadi makin meriah pengalaman makanmu buat cobain 4 macam tempe ya :grinning_face_with_smiling_eyes:

Tapi ini emang seru dan menyenangkan banget buat explore semuanya.
Makasih juga uda dipraktekan tips fotografinya :folded_hands:t2:
Semoga bermanfaat ya.

Tempe menjes itu apa sama dengan tempe mendoan?

Wah.. Kripik tempe mengingatkanku dengan pengalaman ke pengrajin tempe awal bulan ini di meet-up bersama @doc_dells

Nanti kalau rekapnya uda ada, silahkan diliat juga ya Mas.
Berbagi pengalaman kami yang seru waktu meet-up itu :heart_eyes:

2 Likes

Terima kasih kembali, Mbak @Velvel :hugs:

Saya senang sekali bisa ikut berpartisipasi dalam challenge #MONOLOGUE ini. Awalnya benar-benar hanya berniat makan Soto Kudus, tapi ternyata malah “ketemu bonus” empat macam olahan tempe yang membuat pengalaman makan siang saya jadi jauh lebih seru. :grinning_face_with_smiling_eyes:

Senang juga mendengar tips plating dan fotografi yang Mbak bagikan ternyata bisa saya praktikkan. Saya jadi lebih memperhatikan cara menyajikan makanan dan mengambil foto dari beberapa sudut sebelum akhirnya disantap. Ternyata hasilnya memang terasa berbeda. Terima kasih banyak atas tips-tipsnya! :folded_hands:

Kalau untuk pertanyaannya, tempe menjes berbeda dengan tempe mendoan, Mbak. :blush: Tempe menjes dibuat dari menjes (hasil fermentasi ampas tahu atau bahan lain, tergantung daerahnya), sedangkan tempe mendoan menggunakan tempe kedelai yang diiris tipis lalu dibalut adonan tepung berbumbu dan digoreng setengah matang, sehingga bagian dalamnya masih lembut. Dua-duanya sama-sama enak, hanya karakter rasa dan teksturnya berbeda.

Wah, saya jadi keinget waktu meet-up ke kampung tempe kapan hari itu bersama Mbak @doc_dells dan teman-teman yang lain, belinya dari pengrajin tempe (owner) yang sebelumnya adalah eks koki di Jepang. Awalnya mau beli 4 bungkus, eh jadinya nambah 1 lagi sekalian, dan akhirnya bawa 5 bungkus keripik tempenya :star_struck:

Nanti kalau recap-nya sudah terbit, pasti saya baca. Terima kasih sudah memberi tahu ya, Mbak. Semoga nanti saya juga bisa belajar lebih banyak tentang dunia pertempean dari cerita meet-up tersebut. :blush:

3 Likes

Toss untuk para penggemar tempeh do manapun berada! Thanks for sharing the story mas @JeffryRisandy .. I have tried mwnjes as well when I visited Malang back in 2025. It was good!

Wherever I go and wherever I live, tempeh has been an inseparable part! Check.out my entry for this challenge as well :innocent:

3 Likes

Sama-sama, Mas @JeffryRisandy :blush:
Ikut seneng saya dengarnya karena tips yang dibagikan berguna dan langsung dipraktekan dengan hasil yang bagus :star_struck:

Oh iya menjes.. Baru keinget olahan itu yang sayangnya belum pernah kutemukan di Jakarta :smiling_face_with_tear:
Jadi pensaran pengen cobain deh.

Wahh.. Mas bener-bener perhatiin dengan baik sewaktu kami virtual meet-up ke pengrajin tempe. Kalau kami terlalu berisik waktu itu, harap dimaklumi ya :folded_hands:t2::grinning_face_with_smiling_eyes:
(Colek @doc_dells @iyudhi )

Jujur aja, keripik tempe yang kami beli di pengrajin tempe bener-bener fresh, renyah, enak, dan auto jadi favorit deh :star_struck:
Apalagi harganya juga sangat terjangkau, jauh di bawah dibanding ketika uda masuk ke toko.

Apakah di Surabaya ada pengrajin tempe sejenis gitu, Mas?

2 Likes

Wow, mas @JeffryRisandy, thanks for sharing the comprehensive post. I also like eating at Soto Kudus! One of the well-known Warung Soto that I’ve visited many times is Soto Kudus Blok M. It has several branches in Jakarta. Soto Kudus always has a small portion, especially if we choose “campur,” mixing the steamed rice into the bowl. :grin: This makes us reorder, aka nambah, :sweat_smile:. Plus, the side dishes are more entertaining! Various sate-stew and, of course, tempeh, either tempe bacem, tempe mendoan, or keripik tempeh :star_struck: Thanks again for sharing this with us @Velvel :raising_hands:

2 Likes

Hahhahaha iya, mas @JeffryRisandy, baru aja tayang rekapnya wkwkkw. Silahkan mampirrr Recap: [Virtual] June 07, Virtual Meet-Up for #MONOLOGUE - World Tempeh Day

1 Like

Seruuu banget ini … makasi ya, my lovely co-host @Velvel and our guests @iyudhi and @feMz :star_struck:

2 Likes

Thank you so much, Mbak @indahnuria :hugs: High five to all tempeh lovers! :raising_hands:

I’m so glad you’ve also tried menjes during your visit to Malang. It’s one of those unique traditional foods that deserves more recognition. :blush:

Thanks as well for stopping by and leaving such a kind comment. I’ll definitely check out your #MONOLOGUE story too. Looking forward to reading your experience! :seedling::sparkles:

Hehe, tentu saja saya memperhatikan, Mbak @Velvel :grinning_face_with_smiling_eyes: Justru sesi virtual meet-up kemarin terasa seru karena suasananya santai dan interaktif. Terima kasih juga sudah berbagi banyak cerita langsung dari Kampung Tempe, jadi kami yang ikut secara virtual tetap bisa ikut merasakan pengalaman seolah berada di sana. :raising_hands:

Kalau di Surabaya, setahu saya memang ada beberapa sentra atau kampung tempe, seperti di kawasan Tenggilis Kauman (Tenggilis Mejoyo) dan Sukomanunggal. Namun, sejauh yang saya tahu, konsepnya belum sepopuler Wisata Tempe Sanan di Malang atau Kampung Tempe yang Mbak kunjungi di Jakarta. Sebagian besar lebih fokus pada produksi tempe untuk didistribusikan ke pasar atau dijual kepada pelanggan sekitar.

Menjes memang cukup sulit ditemukan di luar Jawa Timur. Kalau suatu saat Mbak berkunjung ke Jawa Timur, wajib dicoba! Rasanya unik dan berbeda dengan tempe biasa. :grinning_face_with_smiling_eyes:

Semoga suatu hari nanti saya juga bisa mengunjungi Kampung Tempe tersebut secara langsung dan mencicipi keripik tempenya yang masih fresh dari pengrajin. Terima kasih sekali lagi sudah menginisiasi challenge #MONOLOGUE dan virtual meet-up yang sangat berkesan! :seedling: :clap: :blush:

1 Like

Thank you so much, Mbak @doc_dells :blush:

It sounds like we’re both fans of Soto Kudus! :grinning_face_with_smiling_eyes: One of its unique characteristics is definitely the small portion, especially when you order the “campur” version with the rice mixed into the soup. It always leaves you wanting another bowl! :face_with_hand_over_mouth:

I completely agree that the side dishes make the experience even more enjoyable. Tempe bacem, tempe mendoan, crispy tempeh chips, and the various satays are the perfect companions to a warm bowl of Soto Kudus.

Thank you as well for recommending Soto Kudus Blok M. If I have the chance to visit Jakarta again, I’ll definitely add it to my culinary bucket list. I love how the #MONOLOGUE challenge has not only encouraged us to share stories about tempeh but also introduced us to so many regional culinary specialties across Indonesia. :seedling::fork_and_knife_with_plate:

1 Like

Hahaha… I already stopped by and left my comment there Mbak @doc_dells :grinning_face_with_smiling_eyes: Thank you again for the amazing meet-up and for putting together such a detailed recap. Looking forward to the next #MONOLOGUE adventure! :seedling::raising_hands:

Wah.. jadi bikin ngiler pengen semangkuk soto kudus yang mini deh Mbak @doc_dells :drooling_face:
Jujur pertama kali aku makan soto kudus itu sempet mikir “waduh kok porsinya kecil gini. Nanti kalau ga kenyang gimana” :rofl:
Uda kuatir duluan aja.

Tapi setelah dimakan sama nasi putih sebagai karbo, ditambah lagi campur sama macam-macam sate, akhirnya merasa cukup juga.
Mungkin ini yang membuat aku makan 1 mangkok aja cukup (asalkan ada tambahan hidangan sampingan atau jajanan lain lho ya :face_with_hand_over_mouth:).

2 Likes

@Velvel Kalau aku 1 mangkok gak cukup :smile:

2 Likes