Ketika konsep “zero waste” mulai banyak diterapkan di awal tahun 2000-an, sesungguhnya masyarakat pedesaan di Jawa sudah mempraktekkan hal tersebut sejak dahulu kala.
Daripada ampas kacang kedelai dibuang begitu saja, atau sekadar dijadikan pakan ternak, bukankah akan lebih baik kalau ampas tersebut diolah kembali jadi penganan yang layak santap? Maka terciptalah TEMPE MENJES: KENIQMATAN DUNIAWI DARI MALANG CITY. Begini ceritanya…
———————
Tempe menjes. Atau masyarakat lokal juga menyebutnya “mendjos.” Merupakan penganan eksotis khas Malang, Jawa Timur, yang berwarna kehitaman dan memiliki tekstur campuran antara tempe dan tahu. Lembut dan padat. Anda pernah iseng coba menggigit styrofoam bekas pembungkus televisi dan barang elektronik lainnya? Nah, teksturnya mirip. Mak nyess…
Tempe menjes di Malang dibuat dari ampas kacang kedelai sisa produksi tahu, yang dicampur dengan ampas kelapa sisa produksi minyak kelapa, yang kemudian difermentasi dengan bantuan ragi jamur tempe. Setelah dicetak dan didiamkan beberapa waktu, tempe menjes akan memadat, menghitam, dan permukaannya diselimuti jamur berwarna putih tebal yang ketika disentuh akan terasa saaangat lembut, mirip seperti pipi si dia yang baru saja mandi. Coba, deh, cubit ?
Jujur saja, bagi sebagian orang penampilan luar tempe menjes yang seperti itu (berbentuk balok, abu-abu gelap kehitaman, berjamur) tidaklah mengundang selera. Lebih mirip kayu lapuk yang dibiarkan terkena basah air hujan dan terik matahari selama beberapa waktu. Tidak instagramable. Terlebih ketika Anda cium aromanya. Ugh, lembab, tajam, eksotisss…
Berbekal kreativitas, tempe menjes bisa diolah menjadi beragam masakan lezat-niqmat, di antaranya oseng-oseng tempe menjes dengan kecap, petai, dan udang, sayur lodeh tempe menjes, juga beragam masakan berkuah santan lainnya. Citarasa tempe menjes yang tajam dan cenderung asam musti “dilawan” dengan bumbu-bumbu yang tajam dan berkarakter “tebal” dan “hangat” untuk menghasilkan masakan yang seimbang. Katanya.
“Berarti memasak tempe menjes yang lezat lagi niqmat, tuh, ribet, ya, Min?”
Oh, tentu tidak, Kawan! Tempe menjes bisa dimasak sesederhana menjadi gorengan! Tempe menjes goreng tepung! Caranya potong-potong tempe menjes sesuai selera (umumnya berukuran 12 x 7 x 1 cm —Red.), lalu celupkan ke dalam adonan tempura yang terbuat dari campuran tepung terigu, sedikit tepung beras, air secukupnya, garam, bawang putih, ketumbar, kunyit, dan daun jeruk, lalu goreng di dalam minyak panas (deep fried —Red.) hingga matang kuning keemasan. Sajikan tempe menjos goreng selagi hangat dengan cocolan petis udang dan cabe rawit.
Biasanya tempe menjes goreng disantap sebagai kudapan ringan, bukan lauk untuk makan. Ketika di bar umumnya disajikan bir dan kacang, maka di warung-warung angkringan yang disediakan adalah tempe menjes goreng dengan petis udang dan cabe rawit free flow. Niqmaatt…
Di luar Malang dikenal penganan yang serupa tempe menjes, namanya tempe gembus. Kendati sama-sama terbuat dari fermentasi ampas kacang kedelai, namun penampilan tempe gembus lebih “cantik,” lebih putih, ketimbang tempe menjes. Ada yang menyebut perbedaan ini karena tempe gembus hanya menggunakan ampas kacang kedelai tanpa campuran bahan ampas yang lainnya. Sehingga tempe gembus lebih putih dan lembut.
Namun demikian ada satu keunggulan tempe menjes yang tak dimiliki tempe gembus: tempe menjes memiliki citarasa yang lebih tajam dan kompleks. Jika diibaratkan sebuah masakan, maka tempe gembus adalah sayur bayam bening, dan tempe menjes adalah rawon dengan kuah yang mlekoh dan ngangeni.
Jadi tak heran kalau salah satu hal yang dirindukan oleh kera-kera Ngalam di perantauan adalah niqmatnya menyantap tempe menjes goreng panas yang dicocol ke petis udang sembari menggigit satu-dua cabe rawit. Kriukk! Sungguh keniqmatan duniawi yang tak tergantikan…
Yok opo, kepingin helom, kan, koen, Ker?! ?




