Beberapa waktu lalu, saya melintas di depan Candi Singosari. Tujuannya untuk berkunjung dan belajar ke salah satu peninggalan kerajaan Singhasari tersebut. Namun sebuah kerumunan di trotoar depan Candi membuat saya tertarik untuk mendekat. Terlihat seorang ibu sedang menjajakan semacam nasi bungkus dengan banner bertuliskan Nasi Babat Gresik di bagian bawah mejanya.
Nasi Babat Gresik ini mulai berjualan sejak pukul 05.00 pagi (wow) karena sang pemilik tinggal tidak jauh dari lokasi ini. Perjalanan usahanya dimulai sejak tahun 2021 saat pandemi Covid. Ketika itu usahanya di sebuah Pujasera (Foodcourt) ditutup dan beliau memutuskan berjualan di pinggir jalan dengan menu lebih simple.
Walaupun namanya Nasi Babat tapi tersedia berbagai jenis lauk seperti Ayam Goreng, Usus Sapi, Paru Sapi, Daging Empal, Sate Telur, Kikil Sapi, Bothok dan lain-lain. Harga per porsinya menyeseuaikan dengan lauk yang dipilih, kisarannya mulai Rp. 15.000 sampai Rp. 25.000. Penyajiannya di piring masih menggunakan alas daun pisang sehingga wanginya nasi panas yang disajikan terasa lebih nikmat. Lalu setelah nasi, ditaruhlah lauk di atasnya dengan taburan serundeng kelapa dan dilengkapi dengan sambal dan irisan timun dan daun kemangi.
Penggemar kuliner ini tak hanya datang dari sekitar Singosari saja tapi juga dari Kota Malang. Selain harganya terjangkau, pelanggan bisa menikmati megahnya Candi Singosari dari jarak dekat. Kuliner satu ini buka maksimal sampai jam 9 pagi dan biasanya tutup lebih cepat di saat weekend. Maka disarankan datang sebelum pukul 7 pagi agar tidak kehabisan.
Saat ini, stan Warung Nasi Babat ini juga dilengkapi dengan tempat duduk sederhana berupa tikar yang digelar di trotoar dan beberapa kursi plastik. Jika menghendaki minuman, di sebelahnya tersedia stan minuman yang menyediakan aneka minuman yang bisa dibeli.
Untuk akses parkir, pembeli bisa memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan di depan stan. Usahakan agar kendaraannya bisa diletakkan dengan rapi agar tidak mengganggu lalu lintas.
Perjalanan saya hari itu tidak berakhir di Candi Singosari dan Nasi Babat Gresik saja karena tak jauh dari sana ada Es Gandur atau Es Degan Duren. Es ini adalah perpaduan dari Degan (kelapa muda) dengan Durian yang diproduksi oleh teman local guides @MasJon dan @Sinta. Untuk yang kurang suka Durian, tersedia juga varian Es Degan Susu.
Perjalanan hari itu lengkap sekali, setelah belajar sejarah lalu ditutup dengan wisata kuliner yang mengenyangkan dan segar.
Dini
#StreetFoodStories
#SupportSmallBusiness













