[RECAP] #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu

Halo, Saudara-saudara. Jumpa lagi bersama saya Local Guides kurang terkenal dari Jawa Timur @iorikun301.

Kali ini saya akan bercerita tentang salah satu project dari Malang Local Guides, Local Guides Clean The Map Malang (untuk selanjutnya disebut #LGCTM Malang). Project #LGCTM Malang ini merupakan project “membersihkan” aplikasi peta digital Google Maps dari konten-konten yang tidak semustinya ada di peta (baca: bad data) yang mana project ini terinspirasi oleh gerakan #LGCTM yang diinisiasi oleh @JanVanHaver.

Dan hari ini, Senin, 3 Februari 2020, telah dilaksanakan Meet Up (kopi darat) yang bertajuk #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu dan mengambil tempat di Janus Coffee & Library, Jl. Munif no. 3, Sisir, Kota Batu - Jawa Timur, dari pukul 10:48-12:48 WIB dengan agenda kegiatan Map Editing.

Adapun yang bertindak sebagai Tuan Rumah (Host) pada Meet Up kali ini adalah Local Guides kurang terkenal dari Jawa Timur @iorikun301. Tercatat tak lebih dari 1 peserta menghadiri Meet Up kali ini, yakni si Tuan Rumah Meet Up ini sendiri, dengan 6 orang peserta ghoib (mencatatkan dirinya pada daftar “ya, saya ingin menghadiri Meet Up ini,” alias RSVP, namun tidak hadir tanpa alasan yang jelas).

Karena Meet Up kali ini nihil peserta, maka Tuan Rumah Meet Up bisa dengan semena-mena melaksanakan agenda Meet Up sekehendaknya, termasuk memindahkan lokasi Meet Up tanpa berita dan memperpanjang waktu Meet Up suka-suka.

Semula Meet Up ini bermaksud untuk menindaklanjuti beberapa temuan yang berhasil didapat dan dipelajari pada #LGCTM Malang yang pertama. Namun karena sembari menunggu peserta #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu tiba Tuan Rumah Meet Up bersenandung mendengarkan lagu terbaru JKT48 yang berjudul “Sweet and Bitter”, dan salah satu liriknya mengatakan “Hey, hey, pilih yang mana. Chocola!”, maka hal ini menginspirasi Tuan Rumah Meet Up untuk “mengapa tidak kita jajal saja semua tips & trik #LGCTM yang telah dibagikan @JanVanHaver dan mencari tahu seperti apa cara yang efektif untuk melakukan #LGCTM ini.” Sampai tulisan ini dibuat, tercatat ada 12 tips dan trik #LGCTM yang telah dibagikan oleh @JanVanHaver di laman asli project #LGCTM.

Hey, hey, pilih yang mana. Chocola!

#LGCTM adalah project untuk mengedit/menghapus tempat-tempat/POI yang tidak semestinya ada di Google Maps (baca: bad data). Adapun konten/POI yang menjadi sasaran dari project ini adalah (1) tempat-tempat yang sudah tutup permanen/bangkrut namun masih tercantum di Google Maps, (2) duplikat, yakni tempat-tempat yang merupakan kopi dari tempat lain yang sudah ada di peta, serta (3) spam, segala data yang bersifat ilegal, ofensif, penipuan, serta jahat (ih, kamu jahat nggak datang ke Meet Up!? *puk-puk). Dan #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu ini menyasar itu semua.

Tips & trik nomor 1: Zooming. Ini dilakukan dengan cara melakukan zoom in dan zoom out pada area-area tertentu (secara acak) di Google Maps, lalu menggeser-geser area yang diamati seperti seorang ninja yang tengah mencari jarum di antara tumpukan jerami hingga didapati tempat-tempat/POI yang terindikasi closed business, duplikat, atau spam. Dalam Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu ini kami menyisir area kelurahan Sisir, kota Batu, Jawa Timur (pun intended).

Dalam penyisiran ini didapati beberapa POI duplikat (yang kemudian segera diedit), namun tidak didapati closed business maupun spam. Setelah berdiskusi panjang dengan dirinya sendiri, Tuan Rumah Meet Up kemudian mengambil kesimpulan bahwa ciri-ciri tempat/POI yang terindikasi duplikat antara lain (1) nama yang sama, atau setidaknya ada kemiripan, dan (2) terletak di lokasi yang sama, atau setidaknya berdekatan/berhimpitan, yang mana bisa jelas terlihat ketika kita menghidupkan mode satelit.

Kelemahan dari metode zooming ini adalah tidak semua POI yang ada di area tersebut muncul ketika kita sedang bergerilya menyisir area tersebut kendati kita sudah melakukan zooming in secara maksimal maupun ketika melakukan zoom in dan zoom out maju-mundur berulang-ulang seperti tata kamera beberapa adegan sinetron antagonis. Tahunya dari mana? Simak pada tips & trik nomor 2: zooming and search.

Zooming and Search merupakan pengembangan dari metode Zooming. Bukan hanya melakukan zoom in pada area tertentu, namun kita juga melakukan pencarian, mengetikkan beberapa kata kunci tertentu di kolom pencarian, maupun memanfaatkan fitur explore near by yang ada di Google Maps. Berdasarkan riset dan temuan dari Meet Up #LGCTM Malang yang pertama, didapati beberapa kata kunci tertentu memiliki banyak tempat/POI yang terindikasi duplikat, di antaranya masjid, pom bensin, dan juga cafe. Jenis tempat yang populasinya tergolong banyak.

Adapun untuk jenis closed business kami belum bisa mendapati banyak, karena menurut Tuan Rumah Meet Up, untuk jenis closed business ini dibutuhkan pengecekan fakta di lapangan untuk kita bisa betul-betul yakin bahwa tempat tersebut memang sudah tutup/bangkrut. Adapun untuk spam, ehe ehe ehe, kita bicarakan saja ketika kita bertemu langsung. Tapi yang jelas untuk spam: banyak.

Tips & trik ketiga: merge worflow. Caranya adalah dengan menemukan tempat/POI yang terindikasi duplikat, lalu mengeditnya, dan biarkan Google yang kemudian menggabungkan kedua tempat yang terindikasi duplikat tersebut. Ngg… ya, iya lah, Shani JKT48! Setelah kita menemukan POI yang terindikasi duplikat lalu kita mengeditnya report as duplicate place! Masa kita cuma memicingkan mata, dagu terangkat, hidung kembang-kempis, sambil berkata dalam hati: “Hmm…, Anda di sini, rupanya, tempat duplikaaatt!!?” TENTU TIDAK, DONGG!!!

Tips & trik keempat: bad words. Kata-kata yang tidak pantas/kasar. Menurut si empunya tips, sebagai pemuda gawl, kita tentunya tahu beberapa kata tak pantas di skena pergaulan lokal, yang boleh jadi, siapa tahu, dimanfaatkan orang-orang iseng tidak bertanggung jawab untuk “mengguyoni” tempat-tempat yang mereka rasa layak diguyoni atau bahkan dijatuhkan reputasinya. F-words, nama-nama binatang, hingga nama alat reproduksi (misalnya putik atau benang sari), diduga menjadi kandidat kata-kata yang digunakan perisak untuk “mengguyoni” POI-POI yang tidak mereka senangi.

Sebagai percobaan, kami dalam Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu ini memasukkan salah satu f-words khas Jawa Timur, khususnya di kawasan Malang dan Surabaya, di kolom pencarian. Ketik: jajan dipincuk (iykwim). Lalu apa hasil teratas yang keluar, Saudara-saudara? Iya, benar. Restoran nasi goreng di salah satu hotel berbintang di Surabaya yang nasi gorengnya terkenal sangat pedas (katanya koran).

Tips & trik kelima: inactive business. Dideteksi dengan memeriksa POI-POI (akun bisnis/GMB) yang sudah lama tidak terlihat beraktivitas memposting sesuatu di Google Maps atau sudah tidak ada lagi pengguna yang memberikan ulasan mereka pada POI ini dalam waktu yang relatif lama. Ya, kami tahu, #LGCTM adalah sapu bersih nyemplung aplikasi, tapi ya nggak gini-gini amat, kalii??

“Nanti saja kalau ketemu sambil lalu, baru kita edit,” ujar @iorikun301, Tuan Rumah merangkap satu-satunya peserta Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu.

Tips & trik keenam: kata kolega. Colleague knowledge. Kita meminta petunjuk dari kolega/kawan/sahabat/karib kita bilamana ia mengetahui ada POI yang terindikasi duplikat, closed business, atau spam di Google Maps yang belum diedit/ditutup. Pada Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu kali ini, hal ini belum memungkinkan untuk dilakukan. Anda tentu sudah tahu alasannya… #sedih

Tips & trik ketujuh: street cleaning. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang sama-sama terbatas, Tuan Rumah maupun peserta Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu ini belum mampu memahami apa maksud dan bagaimana hal ini dilakukan. Tapi katanya di kawasan bisnis yang padat, boleh jadi, ditemui tempat-tempat duplikat. Jika nama jalan dan nomor rumah/alamatnya sama, maka itu duplikat. Next!

Tips & trik kedelapan: ragu-ragu lebih baik jangan lakukan apa-apa! Ya, akurasi informasi di Google Maps adalah hal yang penting. Hal ini semata agar para pengguna bisa menggunakan aplikasi ini dengan segala kebermanfaatannya, dan tidak sampai kecele (NB: saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya, terlebih bahasa Inggrisnya, kecele).

Pada Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu kali ini kami mendapati ada POI yang kami indikasikan duplikat, namun keduanya sepertinya terkoneksi dengan fitur pemesanan online di Google Maps via online travel agent. Karena kami bingung yang manakah yang musti diedit/ditutup, sementara rekan diskusi kami hanyalah dahan, ranting, pohon, dan kebun yang basah semua karena hujan, maka kami memutuskan untuk membiarkan saja POI tersebut tanpa kami apa-apakan. Lanjut!

Tips & trik kesembilan: bisnis-bisnis yang bangkrut. Pertanyaan pertama: kita bisa tahu dari mana bahwa satu bisnis telah bangkrut? Sarannya, sih, cari info tentang bisnis-bisnis yang bangkrut di media massa, di koran-koran lokal. Namun, ada berapa banyak berita tentang satu tempat usaha bangkrut dan kemudian hal tersebut dimuat di surat kabar lokal? Kalau berita tentang pembukaan tempat usaha baru, sih, banyak di bagian advertorialnya. Tapi bangkrut? Ngg…

Tips & trik kesepuluh: clean cards. Pass.

Tips & trik kesebelas: chain leftover. Menutup sisa-sisa jaringan bisnis yang bangkrut yang POI-nya belum sempat ditutup. Baca lagi tips & trik nomor 9. Atau nomor 5. Next!

Tips & trik keduabelas: jalan-jalan mengitari kawasan dekat-dekat sini saja. Two blocks away. Ini adalah tips & trik termutakir yang dibagikan @JanVanHaver. Caranya: kita berjalan-jalan di area dekat-dekat sini saja, dengan jarak yang tidak perlu terlampau jauh, namun hal ini dilakukan sembari kita memeriksa adakah POI di area itu yang terindikasi duplikat, closed business, atau bahkan spam.

Menurut hemat kami, metode terakhir inilah metode #LGCTM yang paling baik. Mengapa? Karena selain kita memelototi Google Maps, kita juga memeriksa fakta langsung di lapangan. Apakah tempatnya ada? Apakah tenpatnya bangkrut? Apakah di peta nampak POI-nya berganda? Apakah ada spam? Menurut kami ini metode terbaik.

Namun masalahnya: tidak semua Meet Up dengan agenda Map Editing yang dilakukan langsung di lapangan. Banyak yang hanya dilakukan di satu rumah makan, atau kedai kopi, misalnya. Seperti misalnya Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu kali ini. Atau #LGCTM Malang yang pertama, yang bahkan hanya dilakukan di forum Connect. Atau Map Editing 100+ tempat oleh Local Guides Blitar pada Oktober tahun lalu. Atau sudah baca Tips for Organizing Map Editing Meet Up?

Lalu bagaimana? Ketika kita tidak sempat melakukan Map Edit Walk, ya, sudah, kita lakukan saja Map Edit Virtual Walk!

Caranya? Tentukan dulu titik mula virtual walk kita. Misalnya Alun-alun Batu. Lalu kita tentukan di mana titik finishnya. Misalnya di Balaikota Among Tani. Lalu kita rancang rute “jalan-jalannya”. Alun-alun Batu ke Balaikota Among Tani via SMA 1 Batu dan Songgoriti, misalnya. Kemudian kita zooming in ke Google Maps, lalu pelan-pelan menggerakkannya mengikuti jalan/rute yang sudah ditetapkan, sembari mata awas memeriksa POI-POI yang ada di sekitar rute yang “dilalui” apakah ada POI yang terindikasi duplikat, closed business, atau mungkin spam.

Bagaimana? Mudah, bukan?

Tepat pukul 19:48 WIB acara Meet Up #LGCTM Malang Jilid 2 di Batu pun ditutup oleh Tuan Rumah merangkap peserta Meet Up satu-satunya dari lokasi yang kami rahasiakan. Acara berlangsung seru, gayeng, dan adem.

Secara singkat, berikut beberapa hal yang kami dapati dari pelaksanaan Meet Up kali ini:

  1. Virtual walk merupakan solusi bagi Anda yang enggan keluar rumah, namun ingin tetap berkontribusi melakukan #LGCTM secara sistematis di area tempat tinggal Anda;
  2. Untuk memperoleh gambaran lokasi yang lebih akurat, gunakan metode zooming dan hidupkan fitur gambar satelit;
  3. Duplicate place merupakan sasaran yang paling mudah diidentifikasi, disusul spam (yang bisa efektif diidentifikasi dengan metode yang masih saya rahasiakan), dan terakhir closed business yang membutuhkan verifikasi lebih jauh maupun cek fakta di lapangan; serta
  4. #LGCTM jangan dilakukan secara serampangan, karena bisa jadi Anda akan menemui POI-POI yang meragukan. Verifikasi, cek fakta di lapangan, demi akurasi aplikasi.

Akhirul kata hujan sudah mulai reda, saya sepertinya sudah bisa pulang. Mudah-mudahan tidak sampai kebanjiran di tengah jalan. Sampai jumpa di Meet Up-Meet Up selanjutnya maupun project-project Malang Local Guides lainnya bersama saya Local Guides kurang terkenal dari Jawa Timur @iorikun301 .

Hey, hey, pilih yang mana. Chocola!

30 Likes

Mantabs tips n trick nya, semoga bermanfaat buat semua, tetap semangat buat host yang tidak terlalu terkenal @iorikun301 semiga selalu menginspirasi…

3 Likes

Hahahaa… matur nuwun, Mas @MasJon Local Guides dari Candirenggo :smile:

1 Like

mantab sekali tip dan trik yang dibagikan oleh mas @iorikun301 semoga kita tetap bisa memberikan kontribusi positif…

2 Likes

Hehee… makasih, Pak @Assaifi_Mc .

Ada banyak hal, sebetulnya, yang bisa digali dan dipelajari. Tapi tentu saja saya tidak bisa melakukannya sendiri. Butuh bantuan dari rekan-rekan yang lain juga.

Tapi, yah, sesempatnya saja, lah. Hehee…

Makasih, Pak @Assaifi_Mc :))

1 Like

Makasih ilmu nya ka @iorikun301

Kopi daratnya sendirian aj ka?

Kejauhan si di Malang…hehhe…

1 Like

Oh, enggak, kok, Kang @Andez09 .

Ini ada 6 atau 7 peserta Meet Up lainnya. Cuma mereka belum datang aja pas Meet Up-nya udah selesai

Wah @iorikun301 siapa enam orang itu? Meskipun cuman satu orang, meet up tetap berjalan dan itu sangat keren. Saya baca beberapa tipsnya memang bisa diterapkan saat kita sedang berada di sebuah lokasi yang dekat dengan banyak POI Dan tentunya punya waktu yang luang. Semoga ada edisi atau jilid tiganya ya!

1 Like

Halo, Kak @NunungAfuah

Terima kasih apresiasinya. Itu sangat berarti buat saya.

Siapa sajakah keenam peserta itu? Nah, itu yang saya tidak tahu. Karena sampai Meet Up diakhiri dan saya pulang, mereka belum juga datang. Jadi ndak sempat kenalan. Mohon maaf.

NB: Itu bukan tips dari saya. Saya cuma mencoba tips & trik #LGCTM yang dielaborasi dan dikemukakan Pak @JanVanHaver . Eksplorasi saja mana metode yang sekiranya cocok diterapkan di Malang sini@

You were right about one thing @iorikun301 : the automatic trnaslation does not result in meaningful sentences in a lot of cases :sunglasses: . But I am really impressed with your enthusiasm to take part in the #LGCTM project. And really nice that you decided to put all tips to the test!

1 Like

Hi, @JanVanHaver

I’m interested in this #LGCTM movement is because I think it could benefit a lot of users, including myself, when the Maps is relatively free from bad data.

Nowdays a lot of people would check on their Maps before they decided to go somewhere. So when the Maps is “clean”, we could confidently take its suggestion and not worried about being confused about a place that’s actually has closed permanently but still appear on the Maps (in local slang language: kêchêlé)

1 Like