Pesona Arsitektur Islami Klasik Masjid Al-Ikhlas Riverwalk Island PIK: Simbol Kedaulatan Spiritual, Toleransi Megah, dan Catatan Manusia di Tengah Modernisasi


Gambar di bantu oleh AI Gemini :gemini:

Pesona Arsitektur Islami Klasik Masjid Al-Ikhlas Riverwalk Island PIK: Simbol Kedaulatan Spiritual, Toleransi Megah, dan Catatan Manusia di Tengah Modernisasi

Halo Sahabat Kontributor Dunia,

Sebagai seorang Local Guide aktif, salah satu kebahagiaan terbesar bagi saya adalah ketika bisa mendokumentasikan sebuah tempat ibadah yang tidak hanya indah secara arsitektur, tetapi juga menyimpan nilai sejarah penting, kenyamanan fasilitas, serta nilai-nilai kemanusiaan yang sangat beradab. Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk mengeksplorasi keindahan Masjid Al-Ikhlas Riverwalk Island, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, Indonesia.

Bagi saya pribadi, kunjungan ini terasa sangat istimewa karena masjid megah ini merupakan saksi sejarah baru. Berdasarkan batu prasasti peresmian yang saya abadikan di lokasi, Masjid Al-Ikhlas ini baru saja diresmikan secara langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., pada tanggal 15 Januari 2026. Sebuah momen bersejarah yang menandai berdirinya pusat spiritual baru di kawasan pesisir modern Jakarta Utara.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di area pelataran luar, kita langsung disuguhkan oleh kemegahan gerbang lengkung (archway) abu-abu berornamen geometri Islami yang dipadukan dengan kubah-kubah kecil berwarna emas di atasnya. Struktur bangunan utamanya sendiri mengusung gaya arsitektur klasik Islami yang sangat memukau, didominasi warna kuning emas, putih, dan abu-abu, lengkap dengan menara-menara tinggi yang berdiri kokoh dan anggun di bawah hamparan langit biru yang berawan indah.

Namun, kejutan besar yang membuat saya sangat tertarik adalah ketika memandang ke area tanah lapang yang berada persis di sebelah masjid dan di seberang jalan. Di sana, saat ini sedang berlangsung proyek pembangunan rumah ibadah umat agama lain yang ukurannya sangat besar dan luas. Saya sengaja mengambil beberapa sudut foto (angle) lanskap luar ini untuk mendokumentasikan masa depan kawasan ini. Nantinya, kompleks Masjid Al-Ikhlas PIK ini akan berdiri berdampingan secara harmonis dengan tempat ibadah umat lain. Sebuah pemandangan toleransi keberagaman kasta tertinggi yang luar biasa mendunia di jantung modernisasi Pantai Indah Kapuk!

Saat saya sedang asyik membidik foto lanskap luar, ada kejadian lucu di mana suami saya dengan usilnya diam-diam memotret saya dari arah belakang. Terlihat di dalam foto, saya yang mengenakan jilbab toska sedang serius memegang ponsel memotret sudut bangunan utama, ditemani beberapa pohon palem kurma yang baru saja ditanam di pelataran pavling masjid. Tapi tidak apa-apa, saya sangat menghargai bentuk perhatian dan dukungannya dalam perjalanan gerilya peta saya ini, xixixi.

Sebagai seorang Pemandu Lokal yang menjunjung tinggi adab ketimuran, saya juga tidak melewatkan kesempatan untuk menyapa langsung dua orang bapak petugas kuli bangunan yang kebetulan sedang duduk selonjoran beristirahat di bawah dinding jendela geometri emas.

Saya menyapa mereka dengan ramah, “Halo, Bapak. Sedang istirahat ya? Bapak dari mana asalnya?” Mereka menjawab, “Dari Jawa, Bu.” Saya lalu melanjutkan, “Bapak, terima kasih loh sudah membangun masjid yang indah ini.” Salah satu dari mereka merendah dan menyahut, “Bukan saya, Bu yang membangun. Yang membangun itu yang punya dana.” Mendengar itu, saya langsung menjawab sambil tersenyum becanda , “Loh, yang punya dana mau sebanyak apa pun, jika tidak ada Bapak yang bekerja memeras keringat di lapangan, tidak mungkin bisa berdiri sebuah bangunan megah seperti ini. Jadi saya tetap mengucapkan terima kasih banyak ya, Bapak.” Mereka tersenyum dan menjawab, “Sama-sama, Ibu. Lalu saya berpamitan dengan mereka: Monggo Bapak, silahkan di lanjut , selamat beristirahat, saya permisi dahulu.” Bagi saya, menyapa dan memuliakan para pekerja di lapangan adalah esensi kemanusiaan sejati dari seorang kontributor ulasan tempat.

Sebagai seorang wanita, saya tentu masuk mengeksplorasi melalui area khusus wanita yang penanda arahnya terpasang sangat jelas. Begitu kita membuka pintu masuk utama area wanita, kita langsung disuguhkan oleh pemandangan ruang tunggu di sisi kanan dan kiri lorong yang dilengkapi bangku panjang beludru biru. Fasilitas ini memiliki fungsi sosial yang sangat bijaksana; yaitu sebagai tempat beristirahat yang nyaman bagi teman atau saudara sesama perempuan yang sedang mendapatkan halangan bulanan sehingga tidak ikut melaksanakan ibadah salat di dalam ruang utama.


Melangkah masuk lebih dalam, kita akan menemukan area loker penyimpanan alas kaki yang berdesain melingkar sangat rapi. Di dekat rak tersebut, pengelola masjid juga menyediakan bangku sofa panjang empuk berwarna biru dengan rangka emas mewah untuk memudahkan jemaah duduk santai saat memakai atau melepas sepatu mereka, serta area kebersihan dengan tempat sampah berdesain minimalis hijau yang tertata rapi. Di dekat lorong ini juga terdapat fasilitas tempat wudu wanita ber-AC yang sangat sejuk, di mana keran air wudunya didesain eksklusif di dalam sekat melengkung dengan ukiran bertema emas klasik.

Ada satu penemuan unik di sebelah area tempat wanita. Saat saya membuka salah satu pintu di sudut lorong, ternyata di dalamnya terdapat sebuah struktur tangga besi melingkar (spiral) berwarna putih abu-abu. Berdasarkan informasi dari petugas masjid yang berjaga, tangga melingkar ini nantinya berfungsi sebagai jalur khusus untuk menuju ke lantai atas bagi jemaah atau pengunjung yang ingin menikmati keindahan pemandangan kawasan PIK secara panoramik dari atas masjid. Saat itu, petugas masjid sebenarnya sudah memberikan izin kepada saya jika ingin naik ke atas. Namun, karena area atas tersebut terpantau masih dalam tahap proses pembangunan fisik dan belum sepenuhnya aman bagi pengunjung umum, saya dengan bijaksana memilih untuk tidak memaksakan diri naik demi mengutamakan keselamatan diri saya pribadi.

Setelah melewati lorong fasilitas tersebut, barulah kita memasuki ruang utama salat. Suasana menenteramkan jiwa langsung terasa begitu kental. Seluruh lantai dilapisi oleh hamparan karpet beludru bermotif geometri dengan warna biru safir yang sangat menyejukkan pandangan mata. Keindahan dalam ruangan ini semakin disempurnakan oleh desain kubah bagian dalam yang dilapisi ornamen kaligrafi bernuansa emas, serta jajaran tiang silinder kokoh berkaki emas yang mengelilingi ruang salat.

Saat memandang ke sisi kanan ruangan, kita akan melihat deretan lemari penyimpanan berwarna putih bersih yang di dalamnya tersusun rapi peralatan ibadah seperti mukena, sajadah, serta kitab suci Al-Qur’an yang tersimpan aman di balik pintu kaca reflektif yang merekam keindahan kubah. Di samping lemari tersebut, disediakan pula jajaran kursi kayu ukir berbusa hijau yang disediakan khusus untuk membantu para jemaah lansia, manula, atau warga yang sedang sakit agar tetap bisa melaksanakan ibadah salat dengan sempurna. Sementara itu, tepat di bagian depan ruang utama, berdiri kokoh sebuah mimbar atau tempat khotbah yang sangat megah dan indah berbahan kayu jati pilihan dengan ukiran khas Nusantara bernuansa emas tempat para Ustaz menyampaikan tuntunan rohani.

Secara keseluruhan, Masjid Al-Ikhlas Riverwalk Island PIK ini benar-benar memberikan referensi ruang ibadah yang menawarkan kemegahan arsitektur, toleransi sosial yang indah, sekaligus standar kenyamanan pengelolaan kasta tertinggi di Jakarta Utara. Sebuah destinasi wisata religi tersembunyi yang patut kita jaga dan makmurkan bersama-sama.

Sebagai sesama Local Guides, bagaimana keunikan cerita toleransi tempat ibadah, keindahan seni mural dinding, atau penerapan sistem keselamatan bagi pengunjung di wilayah kota kalian masing-masing?Yuk kita mengobrol dan berbagi cerita unik di kolom komentar!

Sukses Butuh Proses! Terimakasih :folded_hands:t2: #HantuRimba #UpdatePIK



https://maps.app.goo.gl/R53XUzcjnwi33oVGA?g_st=ic

@Ayaanali , @TravellerG
:folded_hands:t2::handshake::sparkling_heart::hibiscus::blossom::revolving_hearts::bouquet:

21 Likes

Permisi Bapak @MortenCopenhagen , monggo silakan dikoreksi ulasan baru saya tentang Masjid Al-Ikhlas PIK. Mudah-mudahan kali ini semuanya sudah aman. Saya sudah menyertakan tangkap layar profil statistik saya dan juga link tempatnya sesuai petunjuk Bapak.

Bapak Morten, jika ini semua benar, saya ingin mengakui bahwa sebetulnya selama ini kita mengalami kesalahpahaman (misscommunication) yang sangat besar loh, bapak. Apakah Bapak paham maksud saya? Selama ini AI Gemini selalu memberi tahu saya bahwa ulasan saya terkena filter “Spam” dari robot Google karena dianggap palsu atau dikerjakan oleh robot komputer.

Karena alasan itulah, kenapa foto sampul saya selalu menampilkan wajah saya sendiri? Sebetulnya motif saya sederhana, Pak; saya ingin menunjukkan kepada sistem Google bahwa ini adalah “Titik”, manusia asli yang sedang bekerja keras mengulas di lapangan! Saya pikir dengan menampilkan wajah saya, Google akan tahu, “Oh, ini ulasan Titik yang asli, karena wajahnya memang seperti ini.” Saya pikir sesederhana itu untuk mengatasi spam, Bapak. Lah kok ternyata saat saya bergabung di LGC ini, sesuai aturan LGC, memposting wajah seperti itu justru dianggap spam? Loh, saya beneran tidak mengerti toh ya Bapak, ya Allah… :sweat_smile:

Lalu mengenai ulasan bintang 1. Selama ini saya berpikir, kalau ada rekan bisnis atau toko yang menyikapi saya dengan tidak baik, ya wajar toh kalau saya ulas tidak baik di Google Maps? Jujur saja Bapak, saya pernah ditipu orang sebesar 3 Juta Rupiah. Uang 3 Juta itu sangat besar dan berharga bagi saya, bapak! Karena sakit hati dan merasa terhina saya ditipu, saya ulaslah toko itu dengan bintang 1. Saya sertakan tangkap layar percakapan dan bukti pembayarannya. Eh, lah kok malah ulasan kemarahan saya itu diturunkan dan dianggap spam oleh robot? Lah, pantas saja selama ini ulasan saya tidak pernah muncul! Lah wong saya ini korban yang ditipu, Bapak…

Bahkan sekarang saya baru tahu kalau ulasan bintang 5 saya pun ikut dianggap spam hanya karena saya mengetiknya dengan kecepatan yang tidak normal? Ya Allah, jika semua itu dianggap spam, berarti seluruh perjuangan kerja keras jempol saya selama ini dianggap spam dong, Pak? Tapi saya tidak sedih, Bapak. Namanya proses belajar memang rasanya pahit. Saya menganggap masa lalu saya sebelum masuk LGC itu adalah proses belajar. Namun selama ini saya belajarnya mandiri bersama AI Gemini (Raditya). Memang benar ya Pak, belajar itu harus ada sosok guru manusianya agar tidak miskom seperti ini. Saya tetap bersyukur akhirnya mata saya dibukakan dan sempat menikmati proses belajar yang sesungguhnya di forum ini, walaupun agak kesulitan bagi saya untuk menerimanya dan bagi Bapak Morten untuk menyampaikannya kepada saya. Jika hari ini saya bisa paham, artinya saya bersyukur saya sudah jauh lebih pinter daripada kemarin kan, Bapak? La terus saya harus bagaimana coba bapak? Memperbaiki semua ulasan saya yang salah ,? Ya nantilah bapak sabar ya bapak :wink::folded_hands:t2::sparkling_heart:

Saya mau curhat sedikit ya, Bapak. Dulu, saat saya menjadi aktivis kemanusiaan di pedalaman Mentawai Siberut Selatan, saya juga sempat dimarahi habis-habisan oleh atasan saya, Pak. Kenapa? Karena ritme kerja saya! Saya itu punya kebiasaan hidup: bekerja secepat mungkin dan sesempurna mungkin. Saya bersumpah tidak akan mau kembali pulang ke Jakarta jika seluruh pekerjaan misi sosial saya di lapangan belum selesai dengan kualitas terbaik. Jangan sampai saya sudah jauh-jauh datang dari Jakarta membawa urusan kantor pusat, lalu di pedalaman saya menyisakan tanggung jawab yang terbengkalai. Saya tidak peduli mau seberapa berat dan lama waktunya, yang penting tugas itu selesai, Pak! Kerja dengan baik dan selesai sesuai target adalah totalitas mutlak bagi saya selaku ujung tombak pengabdian untuk masyarakat pedalaman.

Nah, gara-gara totalitas itu, rekan-rekan tim saya malah mengadu kepada atasan karena mereka tidak mampu mengimbangi ritme bekerja saya yang ugal-ugalan. Misalkan, saya sudah mulai bangun dan bersiap bekerja sejak jam 2 dini hari. Ketika melihat mereka belum tidur dan malah asyik mengobrol, ya saya marahi! Kenapa waktu yang harusnya dipakai istirahat malah dipakai mengobrol, lalu pas jamnya kerja mereka malah tidur z? Kalau tanggung jawab program pemberdayaan masyarakat di pedalaman tidak jalan, saya selaku ketua dan ujung tombak yang harus bertanggung jawab dan saya yang menanggung dosa kan bapak! Saya tidak mau itu terjadi. Akhirnya mereka sebal, mengadu, dan saya dimarahi atasan hanya karena tim saya tidak mampu mengimbangi kecepatan kerja saya. Katanya begini: mbak Tik, kamu kalau kerja di sesuaikan ritmenya. Kalau mereka tidak bisa mengimbangi dengan ritme kerja mbak Titik ya jangan di marahin dong,
Kasihan tahu gak?
Lucu kan bapak saya, di marahin karena ritme kerja yang tidak biasa . Bukan karena saya malas-malasan. Lho keren kan , :star_struck:

Semua sudha jadi cerita indah bapak sekarang . Dan mereka tetap teman-teman saya yang masih baik silaturahmi nya hingga sekarang. Masalah itu biasa bapak. Adanya gesekan karena ada pergerakan. Begitu kata buru saya bapak.

Dan Eladalah, lah kok sekarang di Google Maps kejadiannya mirip lagi, Bapak? Masa saya harus menerima pelanggaran sistem hanya karena ritme mengetik dan kontribusi jempol saya terlalu cepat untuk ukuran manusia normal? Saya kan jadi tepuk jidat sendiri :woman_facepalming:t2: Aduh, asli saya syok parah dan sempat pusing kepala menghadapi inj semua bapak,:worried:
Saya harus belajar apa itu server? Apa itu algoritma? DNA lainnya yang selama ini saya tidak pernah mendengar kata-kata tersebut. Bapak bisa membayangkan sampai di sini saya sudha merasa jauh lebih pinter dari kemarin kan bapak, :woman_shrugging:t2:

Tetap saya bersyukur saya masih dapat izin untuk terus belajar dengan bimbingan bapak Morten juga teman-teman lainnya .

Terimakasih ya, Bapak Morten… saya harap bapak tidak merasa bosan dengan saya . Bersulang! :clinking_glasses::folded_hands::heart::sparkles:

Impressive architecture and nicely captured photos @TitikMariati :+1:

2 Likes

Terimakasih banyak bapak @TusharSuradkar atas pujian dan dukungannya selalu . Saya selalu bahagia dan menambah semangat untuk berbagi cerita tentang ulasan saya . Sekali lagi terimakasih bapak. Mohon doanya ke depan , selalu dna semakin jauh lebih baik lagi dalam berkontribusi. :folded_hands:t2::handshake::ok_hand:t3:

1 Like

That is a common story everywhere, @TitikMariati

I have suffered a lot due to my overwhelming number of posts and meetups on Connect.

My number of posts is more than 1150, and the meetups I hosted are 100+

I routinely meet people in Pune who also laugh and ridicule @curatorofmemory, who recently achieved the prestigious Master Writer badge by writing 500 posts in 450 days.

All of his posts, and also yours, and also mine, are informative, entertaining, and educational,

As Vikas puts it, “people do not have content to publish or experiences to share”.

Some of these ridiculous people then engage in laughing at others.
What a pity.
Let’s ignore them and keep contributing.

Some responsible people make sarcastic remarks, and others support and clap for them, instead of helping new local guides in a straightforward, helpful way.

Ignoring such people and doing our work relentlessly is the only thing helpless new local guides can do currently.

2 Likes

Mengenai dinamika di komunitas, tenang saja Bapak @TusharSuradkar jangan khawatir. Mental saya sudah ditempa di dalam hutan Siberut Mentawai dahulu Bapak . Jadi mental saya sudah di bilang di atas rata-rata kok! :sweat_smile::rofl::rofl:
Asli ini sih sombong tingkat dewa :sweat_smile:

Saya sangat menikmati setiap proses belajar yang saya lalui di forum ini. Apalagi, saya dikelilingi oleh teman-teman luar biasa yang selalu mendukung dan memotivasi saya, seperti Bapak @MortenCopenhagen yang selalu berfikir memperbaiki artikel saya di sana sini . Luar biasa sekali. Juga , Bapak Tushar, Bapak SharmaKK, dan teman-teman lainnya.

Dan yang paling spesial tentu saja Tuan @TravellerG , Tuan TG adalah orang yang paling paham bagaimana perjuangan saya berproses . Beliau tahu betul bagaimana saya belajar sampai menangis, xixixixix. Salah di ulang di revisi lagi . Asli sabar banget Tuan TG itu. Boleh di Tanya saja pada Tuan TG, beliau adalah guru pembimbing saya yang paling sabar, paling bijaksana, dan paling luar biasa dalam menjaga perjalanan saya di sini. :sweat_smile:

Saya sangat menghargai semua dukungan ini dan mengucapkan terima kasih banyak, Bapak ! :folded_hands::sparkles::clinking_glasses::heart:

2 Likes

Perfect @TitikMariati

I too believe in surrounding and interacting with positive and helpful people :+1:
and ignore the sarcastic and negative people :smiley:

Yes, @TravellerG is a mentor to many, many local guides in India and globally.
His knowledge and helpfulness are well-known and highly appreciated.

2 Likes

Usia kita sudah banyak kan ya? Maaf ya Bapak @TusharSuradkar , saya ingin sedikit berbagi tips, hahaha. Sumpah gaya banget saya berbagi tips layaknya saya sudah pinter saja, padahal masih harus banyak belajar. :sweat_smile::winking_face_with_tongue:

Sebagai Local Guide, itu kan kita murni seorang volunteer (relawan). Bener gak, Bapak? Segala kontribusi ini harus dilakukan dengan landasan hati yang ikhlas. Kalau tidak ikhlas, uang tidak dapat, pahala pun bisa hilang.

Mengingat usia kita yang sudah banyak ini, yuk Bapak, kita manfaatkan sisa waktu dan fokus untuk terus berbuat kebaikan saja bagi sesama. Kalau saya pribadi jujur, prinsip hidup saya amat sangat kuat. Saya tidak akan pernah mau didikte oleh siapa pun, termasuk dalam mengulas sebuah tempat. Mau seluruh dunia memusuhi saya sekalipun? Saya tidak akan peduli. Selama saya berbicara jujur sesuai fakta di lapangan, saya akan abaikan semua suara-suara negatif di luar sana. Karena memang tugas utama kita sebagai Local Guide adalah memberikan informasi yang sesungguhnya kepada masyarakat luas. Dan setelahnya, segala risiko yang muncul sudah menjadi bagian dari konsekuensi yang siap saya tanggung sepenuhnya. Saya tidak mau membiarkan aura negatif terlalu banyak masuk ke dalam diri saya, Bapak.

Hidup kita di dunia ini sampai kapan sih? 20 atau 30 tahun lagi? Kita semua tidak ada yang tahu rahasianya. Karena itu, saya memilih menggunakan platform Google Maps ini untuk menebar kebaikan. Jadi, kapan pun saya diwafatkan oleh Sang Pencipta, orang-orang akan tetap tahu rekam jejak kebaikan saya dari ulasan-ulasan yang saya tinggalkan. Semoga segala hal yang saya lakukan di sini dapat menjadi informasi yang akurat, motivasi yang positif, juga dokumentasi nyata dari setiap pergerakan saya dalam membantu sesama manusia.

Hanya itu yang ada di dalam pikiran saya saat ini, Bapak. Kebetulan saya adalah tipe orang yang sangat suka tantangan dan sangat menikmati proses, mau segetir atau sepahit apa pun proses itu, pasti saya nikmati dengan senyuman. Saya percaya, setelah proses belajar yang berliku ini selesai, saya akan memiliki banyak hal bermanfaat yang dapat saya bagikan kembali kepada orang-orang di sekitar saya. Setuju gak, Bapak? Kalau setuju, yuk tos dulu kita! :sweat_smile::oncoming_fist:t2::oncoming_fist:t2:

1 Like

Very true :+1: Fully agree @TitikMariati

1 Like

Ada satu tips hidup saya bapak @TusharSuradkar mau gak saya bagi xixixixi
Biar Bapak tahu kenapa saya mempunyai mental baja dan bisa kobra wkwkwk
Mau sebesar apa pun masalah, jika tidak berkaitan dengan keluarga kita, itu masalah kecil. Namun mau sekecil apa pun masalah, jika itu berkaitan dengan keluarga kita, itu masalah besar. Jadi kita tahu mana skala prioritas masalah yang harus kita tangani. Di dunia ini ada dua yang saya takuti .
Pertama saya takut dengan orang baik.
Ke dua saya takut kalau saya salah, juga bohong :lying_face:
Tidak ada kata lain kalau kita salah. Minta maaf selesai . Mau berkelit seperti apa namanya ketidakjujuran itu pasti ada bekasnya .
Dan kenapa saya takut sama orang baik?
Takut menyakiti hatinya nanti orang baik itu tidak mau bersahabat dengan saya lagi bagaimana ?

Wah, panjang tapi seru banget dibaca, @TitikMariati :grinning_face_with_smiling_eyes: Aku jadi ikut paham bagaimana proses belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya sampai akhirnya menemukan perspektif baru di LGC dan yes ,o orang-orangnya ppada supportifya, kalau ada artikel kita kurang bener, selalu ddikoreksi. Semangat terus buat kita semua​:folded_hands::sparkles:

1 Like

Aamiin , iya mbak @AjengSekar kapan lagi bisa belajar secara gratis dan dapat bimbingan tulis bener gak? Kita harus contoh teman-teman hebat ini mbak xixiix
Mbak Ajeng masih muda harus lebih semangat ya belajarnya dari saya xixii
Jangan mau kalah pokoknya :wink::sweat_smile::sweat_smile:
Sukses untuk kita bersama :folded_hands:t2::raised_fist:t2::raised_fist:t2:

So wonderful Architecture and outstanding photos :ok_hand::ok_hand::ok_hand::camera_with_flash:

Overall nice post, dear friend @TitikMariati
Photos are also impressive…
But,
Try to avoid SIMILAR LOOKING PHOTOS, please…it is of no use to the reader… Dumping photos won’t make your post more interesting, please.

These RULES are same in Google Maps and LG Connect.

Hope you will take the suggestions in the right spirit.
Most sincerely
:folded_hands:

1 Like

You are very kind, dear @TitikMariati
:handshake::folded_hands:

1 Like

Oh baik Tuan TG . Terimakasih atas koreksiannya . Akan saya ingat selalu. . Jangan khawatir Tuan, saya akan selalu menerima masukan dan koreksian Tuan . Terimakasih sudah melakukan hal itu untuk kemajuan dan kebaikan saya ke depannya . Tuan TG , sahabat Digital tersayang saya, sehat-sehat ya Tuan :folded_hands:t2::handshake::wink::sparkling_heart::hibiscus::handshake::folded_hands:t2: Tuan @TravellerG

Thank you very much, my dear @TusharSuradkar for your kind compliments - I don’t know whether I’m worth for your it.
I’m humbly trying my best to support and build our community…
Once again, thank you.
:folded_hands:

1 Like

Terimakasih atas ketulusan hati Tuan @TravellerG :folded_hands:t2::sparkling_heart::folded_hands:t2::sparkling_heart::folded_hands:t2::sparkling_heart:

1 Like

Great spirit, dear @TitikMariati
:handshake::heart_with_ribbon:

1 Like

Terimakasih Tuan @TravellerG , mohon doanya selalu njih :folded_hands:t2::wink::sparkling_heart::blossom::hibiscus::bouquet:

1 Like