Udara kota Bandung cukup cerah. Langit pun tampak berwarna biru. Cuaca yang cocok untuk berkeliling Kota Bandung lalu berburu makanan. Bagian terakhir ini bisa dibilang wajib jika berkunjung ke Bandung. Kota ini memang surga kuliner. Selalu ada makanan baru yang sangat menggoda untuk dicoba.
Kebetulan, saya mendapat kabar kalau ada resto yang tengah digandrungi masyarakat. Kabarnya, jika ingin bersantap di sini harus rela untuk antre. Saya cukup penasaran dan bergegas menuju resto Ayamrasa.
Resto ini ada di tengah kota dan berada di depan sebuah taman kecil. Letaknya cukup strategis sebab berdekatan dengan jalan besar. Ketika mendekati lokasi resto, tampak mobil yang terparkir di tepi jalan. Ternyata mobil-mobil itu menunggu para pemilik yang tengah menikmati ayamrasa.
Perlu 2 kali mengitari taman sebelum berhasil mendapat tempat parkir. Belum cukup karena di dalam masih harus antre untuk memesan makanan. Ada beragam menu, namun saya memilih menyantap ayam sarirasa goreng dan ayam sarirasa kukus, lengkap dengan nasi. Untuk sayurannya, pengunjung bisa menggambil lalapan di bagian meja pemesanan. Jumlahnya tidak dibatasi, sesuka pelanggan saja.
Sambil berdiri, menunggu meja dan kursi kosong, saya mengamati kesibukan para pramusaji dan bagian dalam resto yang terbuka. Ada taman kecil di bagian dalam, membuat udara terasa sejuk dan segar.
Begitu mendapat meja, saya bergegas menunggu pesanan. Perut sudah lapar. Untuk tidak lama kemudian pesanan tiba. Sajian ditata menggunakan piring beling. Nasinya ditaruh di piring terpisah.
Harum ayamnya benar-benar menggoda. Pantas kalau banyak orang menyukainya. Begitu saya mulai menyantap, daging ayamnya tidak terlalu alot. Bagian dalamnya tetap lembut dan juicy dengan bagian luar yang garing.
Ayam ini sepertinya diberi bumbu yang sederhana, paduan dari kunyit dan garam serta bawang putih. Bumbunya cukup meresap sampai ke bagian dalam ayam. Menyenangkan.
Bagaimana dengan ayam kukusnya?
Wah, saya sepertinya lebih suka dengan ayam kukusnya. Warnanya agak pucat karena bumbunya telah menyatu dengan saripati ayam. Meski baru dikukus, ayamnya tidak panas betul. Saya jadi mudah untuk memegangnya.
Daging ayamnya lunak dan lembut. Tanpa sensasi renyah seperti ayam goreng. Rasa bumbunya pun lebih ringan. Menurut saya agak mirip sama ayam hainam. Namun demikian, ayam kukus ini cocok dipadukan dengan lalapan. Sensasi rasanya bertambah berkat sambal dan kesegaran lalapan.
Kalau begini, proses menunggu tadi langsung terbayarkan.


