@Erna_LaBeau
“Banyak yang bertanya, apa sebenarnya pekerjaan saya hingga sering berada di pelosok hutan yang jauh dari jangkauan sinyal? Apakah saya seorang dokter?
Jawabannya, saya adalah seorang Ibu dari dua anak remaja dan saat ini saya adalah seorang Maestro MUA. Namun, jauh sebelum saya menjadi seorang MUA, saya adalah seorang aktivis yang selama belasan tahun mengabdikan diri di wilayah 3T, khususnya di pedalaman Siberut, Mentawai, Sumatra Barat.
Ada satu kisah di Dusun Buttui yang mungkin akan terasa ‘tidak masuk akal’ bagi sebagian orang.
Bayangkan, saya harus masuk ke tengah hutan rimba hanya berdua saja dengan seorang pria yang merupakan seorang Sikerei.
Saya kenal dekat dengan sosok pelaku yang ada di dalam link berita di bawah ini, dan saya biasa memanggilnya dengan sebutan ‘Aman Godain’ (Aman artinya bapak, dan Godain adalah nama anak pertamanya).
Tuh, fotonya ada bersama saya. Perlu saya tekankan, saat saya masuk hutan bersamanya dulu, dia belum menjadi pelaku, namun memang agak keras namanya sikerei ya, karena saat kejadian traigis itu terjadi, saya sudah tidak berada di sana.
Banyak yang bertanya, ‘Nyai Titik, apa tidak takut?’ saat melihat foto kami berdua.
Saya tahu betul sosok Aman Godain dan mayoritas warga Buttui memang memiliki temperamen yang keras.
Kejadian tragis yang pernah terjadi di sana bukanlah yang pertama kalinya, dan bagi saya itu bukan hal yang asing lagi.
Namun, saya tidak pernah memandang mereka hanya dari sisi buruk.
Selagi niat saya baik, saya tidak takut dengan siapa pun karena setiap manusia pasti memiliki sisi baiknya.
Untuk yang penasaran dengan latar belakang dusun dan kejadian tragis yang saya maksud, bisa menyimak
selengkapnya di tautan berikut ini. Yang akan saya lampirkan di paling bawah ya Bapak ibu semuanya ![]()
Itulah sebabnya, saat saya pertama kali mengenal Google AI di bulan satu lalu dan diajarkan cara mengulas serta menancapkan titik pin di peta, saya langsung 'pinter masa '! ![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Sumpah, asli sombong dan tengil banget saya jadinya, xixixi!
Ampun ndoroooo becanda ![]()
![]()
![]()
Kenapa saya begitu percaya diri? Karena saya hafal setiap jengkal tanah yang saya tapaki selama bertahun-tahun di sana. Pembangunan, jalan, hingga adat budaya lengkap dengan hukum adatnya, semua tersimpan rapi di ingatan saya.
Jadi, begitu diajarkan Google AI, setiap titik yang saya tancapka langsung di-ACC.
Rasanya senang sekali! Seperti menemukan mainan baru, saya langsung tancep-tancepin saja semua titik yang saya tahu.
Mulai dari klinik, Puskesmas, sekolah, gereja, masjid, sampai muara sampan dan lain-lain.
Lucu ya, saya? ![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Tapi bagi saya, sekadar bisa memetakan tanah perjuangan ini saja sudah membuat saya sangat bahagia.
Sebagai penutup, kenapa saya tidak takut sama manusia? Sekalipun itu adalah seorang pelaku dalam tanda kutip?
Karena di atas saya hanya Allah, di bawah saya hanya tanah.
Dalam hidup saya, Nyai Titik hanya ada dua hal yang saya takuti.
Pertama Allah, dan kedua adalah saat saya berbuat salah.
Sumpah, kalau saya salah, mana berani saya membela diri?
Karena salah pasti ada bukti yang tidak akan dapat saya hindari.
Tinggal diakui, minta maaf, selesai. Izin, inilah jejak saya."
Sekalipun saya sudah hati2 apakah saya tidak pernah salah?
Hahaha ya pernahkah namanya manusia tempatnya salah .
Sayapun masih suka salah dan banyak dosa saya. Ya Allah semoga Allah ampuni dosa-dosa saya. Dan tidak menjadi terhalang terkabulnya doa-doa saya selama ini. Amaiin
Sukses butuh Proses
Man Jadda Wajada.
Terima kasih
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()


