Saya datang ke Taman Sriwedari hari Minggu sekitar pukul 13.30. Matahari sedang terik-teriknya, jadi suasananya tidak terlalu ramai. Orang-orang yang datang lebih banyak berteduh di bawah pohon atau berlindung di sekitar gedung-gedung budaya yang berdiri di kawasan ini. Ada penjaga taman yang sesekali berkeliling, memastikan semuanya tetap aman.
Yang langsung menarik perhatian saya adalah keberadaan rusa dan angsa. Beberapa keluarga terlihat antusias memberi makan rusa, anak-anak tertawa sambil sedikit ragu mendekat. Ada momen sederhana di situ orang tua menggandeng tangan anaknya, mengajarkan cara mendekat tanpa membuat hewan kaget. Taman ini bukan hanya ruang terbuka, tapi juga ruang pengalaman.
Area taman sangat luas dan relatif tidak bising, meski berada di kota. Tidak banyak bangku kecil untuk duduk santai, jadi orang-orang lebih banyak berdiri, duduk di tepi taman, atau mencari tempat seadanya. Di sekitar area banyak pedagang berjualan, menambah suasana khas ruang publik yang hidup. Toilet tersedia di gedung budaya, dan area parkir cukup memadai untuk pengunjung yang datang bersama keluarga.
Namun ada hal yang cukup mengganggu. Beberapa bagian taman terlihat kotor, sampah plastik berserakan, bahkan ada kubangan lumpur di titik tertentu. Ruang yang seharusnya jadi tempat belajar budaya dan mengenal alam justru terasa kurang terawat. Potensinya besar, tapi pengelolaannya belum maksimal.
Untuk akses difabel, jalurnya relatif aman dan tidak terlalu menyulitkan, apalagi jika ada pendamping. Area cukup terbuka dan tidak banyak hambatan ekstrem. Tapi bagi orang tua yang membawa anak kecil, tetap perlu perhatian ekstra. Hewan seperti rusa dan angsa tidak selalu bisa diprediksi, dan area yang luas membuat anak mudah berlari tanpa arah.
Taman Sriwedari punya kekuatan yang jarang dimiliki ruang terbuka lain: perpaduan budaya dan interaksi dengan hewan dalam satu tempat. Ia bisa menjadi ruang belajar yang hidup tentang Surakarta tentang sejarah, tentang alam, tentang kebersamaan. Jika kebersihan dan perawatannya lebih diperhatikan, taman ini bukan hanya layak dikunjungi kembali, tapi bisa benar-benar menjadi ruang terbuka hijau yang membanggakan dan dirawat bersama oleh warganya.
Dengan menjadi Local Guides, saya bisa membantu kota bekerja lebih baik untuk semua orang.





