Saya datang ke Taman Jalesveva Mayangkara pada Rabu sore, sekitar pukul 16.30. Jam pulang kerja sedang ramai-ramainya. Di seberang jalan, Museum Bank Indonesia Darmo berdiri tenang, kontras dengan arus motor dan mobil yang padat, saling berebut ruang untuk cepat sampai rumah. Taman ini justru terasa sunyi, seolah hanya jadi latar yang dilewati mata, bukan tujuan.
Saya sudah lama tahu tempat ini, tapi baru kali ini benar-benar mampir. Ada rasa penasaran, karena secara visual taman ini punya ruang yang cukup lapang. Kalau berdiri sebentar, sebenarnya terasa potensi untuk sekadar melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Sayangnya, suara kendaraan tidak pernah benar-benar berhenti. Ruang hijau ini seperti terkurung di tengah kebisingan kota.
Tidak ada bangku untuk duduk. Tidak ada sudut yang mengundang orang bertahan lebih lama. Saya hanya berdiri, melihat sekitar, lalu menyadari bahwa taman ini lebih sering dinikmati sambil lalu. Datang, lihat, lalu pergi. Bukan karena tidak menarik, tapi karena tidak diberi alasan untuk tinggal.
Soal fasilitas, nyaris tidak ada yang bisa dimanfaatkan. Tidak ada toilet, tidak ada area bermain, dan yang paling terasa: tidak ada tempat parkir. Mau tidak mau, kalau ingin mampir, harus ekstra waspada memarkir motor atau mobil di pinggir jalan yang ramai. Rasa tenang langsung terpotong oleh rasa khawatir.
Akses untuk difabel juga belum berpihak. Jalurnya sulit, dan posisinya tepat di tepi jalan besar membuatnya terasa tidak aman. Dengan pendamping mungkin masih memungkinkan, tapi jelas bukan ruang yang inklusif.
Meski begitu, saya tidak bisa bilang taman ini sepenuhnya gagal. Untuk ukuran ruang hijau kota, Taman Jalesveva Mayangkara masih layak dikunjungi kembali, terutama bagi mereka yang sekadar ingin berhenti sejenak dan menarik napas. Hanya saja, potensinya jauh lebih besar daripada kondisinya saat ini.
Dengan penataan parkir yang jelas, tempat duduk sederhana, dan sedikit perlindungan dari kebisingan jalan, taman ini bisa berubah dari ruang yang “ada” menjadi ruang yang “hidup”. Kota butuh lebih banyak tempat seperti ini bukan hanya untuk dilihat, tapi untuk ditempati, dirasakan, dan dimiliki bersama.
Dengan menjadi Local Guides, saya bisa membantu kota bekerja lebih baik untuk semua orang.




