Saya datang ke Taman Flyover Juanda Sidoarjo hari Senin siang, sekitar pukul 14.50. Matahari masih cukup terik, dan suasananya terasa lengang. Hampir tak ada orang. Saya berjalan pelan menyusuri area taman, menikmati ruang yang sebenarnya luas, tapi terasa “ditahan”. Beberapa papan penanda masih menyebutkan bahwa kawasan ini terbatas untuk umum. Di titik itu, saya justru merasa sayang karena potensi tempat ini jauh lebih besar daripada kesan yang ditampilkan hari itu.
Taman ini berada di wilayah perbatasan Surabaya dan Sidoarjo, lokasi strategis yang seharusnya hidup. Ruangnya terbuka, jalur jalan kaki sudah ada, dan bentangannya cukup lapang untuk sekadar duduk santai, bermain bersama anak, atau bahkan digerakkan menjadi ruang event kreatif skala lokal. Sayangnya, tidak banyak yang bisa dilakukan selain berjalan dan memandang. Bangku hampir tidak ada, aktivitas pun minim. Padahal, dengan sedikit sentuhan, tempat ini bisa menjadi titik temu dua wilayah yang selama ini hanya dilewati, bukan disinggahi.
Suasananya juga tidak sepenuhnya tenang. Jalan raya besar mengelilingi taman, dan di jam-jam sibuk, kebisingan serta kemacetan pasti sulit dihindari. Ini bukan taman untuk mencari sunyi, tapi lebih cocok sebagai ruang jeda singkat di tengah perjalanan, atau ruang publik aktif yang memang dirancang untuk ramai dan bergerak.
Beberapa fasilitas sebenarnya sudah tersedia, meski belum benar-benar bisa dinikmati. Toilet dan musholla ada, tapi saat saya datang kondisinya tertutup. Tempat sampah tersedia, tapi tidak ada penjual makanan sama sekali. Kalau datang ke sini, sebaiknya memang sudah siap membawa minum atau camilan sendiri dan tentu, siap bertanggung jawab dengan sampahnya.
Soal parkir, kondisinya juga serba “numpang”. Area parkir motor dan mobil mengandalkan toko di sekitar SPBU Aloha, dengan sistem pembayaran tunai. Tidak ideal, tapi masih bisa dimaklumi untuk sementara. Akses untuk difabel pun masih terasa menyulitkan. Tanpa pendamping, beberapa jalur terasa membingungkan dan kurang ramah.
Meski begitu, saya pulang dengan satu kesan kuat: ruang terbuka hijau di sini sangat potensial. Taman Bundaran Aloha punya modal lokasi, luas area, dan visibilitas tinggi. Yang kurang bukan niat, tapi keberanian untuk benar-benar membuka dan menghidupkannya. Dengan perawatan yang lebih konsisten, fasilitas yang difungsikan, dan keberpihakan pada publik, tempat ini bisa berubah dari sekadar “bundaran” menjadi ruang temu yang bermakna.
Datanglah di pagi atau sore hari, saat panas dan lalu lintas sedikit lebih bersahabat. Dan kalau membawa anak kecil, tetap waspada jalan besar ada sangat dekat. Taman ini belum sempurna, tapi justru di ketidaksempurnaannya, potensi besarnya terlihat jelas.
Dengan menjadi Local Guides, saya bisa membantu kota bekerja lebih baik untuk semua orang.





