Saya mampir ke Taman Bundaran Waru di hari Selasa pagi, sekitar pukul 09.50. Matahari sudah cukup tinggi, tapi suasananya justru terasa kosong. Tidak ada orang beraktivitas, tidak ada yang duduk atau sekadar lewat. Saya hanya berhenti sebentar, melihat-lihat dari pinggir, karena beberapa papan penanda masih jelas tertancap: area ini terbatas untuk umum, sedang dalam masa renovasi. Renovasi ke arah mana, untuk fungsi apa, rasanya masih jadi tanda tanya besar.
Dari kejauhan, taman ini sebenarnya punya bentang ruang yang menarik. Letaknya strategis, tepat di wilayah perbatasan Surabaya dan Sidoarjo, kawasan yang tiap hari dilewati ribuan orang. Di kepala saya langsung muncul bayangan: ruang hijau untuk warga sekitar, tempat orang tua mengajak anak menghirup udara sebentar, atau bahkan ruang publik untuk event kreatif skala kecil. Sayangnya, yang saya lihat hari itu lebih banyak tanah basah, proyek yang belum rapi, dan area yang terasa setengah jadi.
Tidak ada bangku, tidak ada jalur pejalan kaki yang jelas. Lumpur masih terlihat di beberapa titik, membuat taman ini terasa belum siap menerima siapa pun. Suaranya pun jauh dari kata teduh. Jalan raya besar mengelilingi bundaran, kendaraan nyaris tak pernah berhenti. Di tempat seperti ini, rasa aman seharusnya jadi prioritas utama tanpa itu, potensi justru bisa berubah jadi masalah.
Soal fasilitas, hampir tidak ada yang bisa digunakan. Tidak ada tempat duduk, tidak ada toilet, tidak ada area parkir resmi. Bahkan untuk sekadar berjalan kaki pun rasanya canggung, karena jalur tidak jelas dan kondisi tanah belum stabil. Untuk difabel, tempat ini bukan hanya tidak ramah, tapi berbahaya. Dengan atau tanpa pendamping, aksesnya terlalu berisiko untuk dicoba.
Kalau bicara jujur, taman ini belum pantas disebut ruang publik. Apalagi ruang hijau yang bisa dinikmati. Datang bersama anak kecil ke sini jelas bukan pilihan bijak jalan besar terlalu dekat, dan tidak ada satu pun fasilitas yang memberi rasa aman.
Meski begitu, satu hal tetap terasa kuat: ruang terbuka hijau di sini sangat potensial. Luas lahannya, visibilitasnya, dan posisinya sebagai “gerbang” Surabaya-Sidoarjo adalah modal besar. Tapi potensi tanpa perawatan, tanpa kejelasan fungsi, dan tanpa orientasi pada keselamatan, hanya akan jadi ruang kosong yang dilewati, bukan dimiliki.
Untuk saat ini, Taman Bundaran Waru lebih baik dipandang sebagai proyek yang belum selesai. Bukan tempat singgah, bukan tempat bermain, apalagi tempat berlama-lama. Harapannya sederhana: kalau memang ingin dijadikan ruang publik, tempat ini perlu dipikirkan serius bukan sekadar dibangun, tapi benar-benar dihidupkan.
Dengan menjadi Local Guides, saya bisa membantu kota bekerja lebih baik untuk semua orang.





