Saya datang ke Taman Balerina kecil ini hari Kamis, sekitar jam 15.40 sore. Suasananya sangat sepi. Yang paling terasa justru lalu lalang motor dan mobil yang terus lewat. Alih-alih jadi tempat singgah, taman ini lebih seperti ruang hijau yang terhimpit jalan. Patung Balerina juga tidak terlihat di taman ini.
Padahal, kalau dilihat tanpa suara kendaraan, ruang terbuka hijau di sini sebenarnya punya potensi. Ada sedikit ruang untuk duduk, sedikit hijau yang bisa jadi jeda. Tapi posisinya yang persis di dekat bundaran dan persimpangan membuat suasana sulit benar-benar tenang. Orang datang sebentar, lalu pergi. Tidak ada yang benar-benar berhenti lama.
Tempat ini masih bisa dimanfaatkan warga perumahan sekitar untuk sekadar santai singkat, olahraga ringan, atau duduk pagi hari sebelum lalu lintas ramai. Tapi itu pun dengan kesadaran penuh bahwa ini bukan taman untuk berlama-lama.
Untuk difabel dan pengunjung malam hari, tempat ini terasa kurang aman. Tidak ada penjaga, tidak ada pembatas jelas dari jalan, dan arus kendaraan terlalu dekat. Anak kecil pun harus diawasi ekstra, karena jarak antara taman dan jalan hampir tidak memberi ruang aman.
Fasilitasnya sangat minimal. Saat saya datang, yang bisa dipakai hanyalah taman mini di pinggir jalan itu sendiri. Tidak ada parkir, dan memang sulit membayangkan di mana orang harus berhenti kendaraan tanpa mengganggu lalu lintas.
Saya pulang dengan perasaan sedikit sayang. Bukan karena tempat ini buruk, tapi karena potensinya tidak benar-benar dirawat dan diarahkan. Ruang terbuka hijau kecil seperti ini sebenarnya bisa berarti bagi warga sekitar. Tapi tanpa penataan, pengamanan, dan kejelasan fungsi, taman ini terasa lebih seperti sisa ruang kota, bukan ruang publik yang mengundang orang untuk datang dan tinggal.
Dengan menjadi Local Guides, saya bisa membantu kota bekerja lebih baik untuk semua orang.


