Nine Days, Six Countries, One Journey
Enam Negara dalam Sembilan Hari
Prancis – Belgia – Belanda – Jerman – Swiss – Italia
Ada perjalanan yang direncanakan.
Ada perjalanan yang ditabung bertahun-tahun.
Dan ada perjalanan yang diam-diam kita simpan sebagai mimpi.
Selama sembilan hari di bulan Januari, kami melintasi enam negara Eropa. Musim dingin menyambut dengan suhu yang menusuk, napas yang berubah menjadi kabut, dan langit kelabu yang justru membuat kota-kota klasik terasa semakin dramatis.
Ini bukan hanya tentang destinasi. Ini tentang rasa.
## Hari 1 – Paris, dan Perasaan yang Sulit Dijelaskan
Ketika pesawat mendarat di Paris Charles de Gaulle Airport, saya menatap ke luar jendela dan berkata dalam hati, “Akhirnya.”
Akhirnya saya menginjakkan kaki di kota yang selama ini hanya saya lihat di film dan kartu pos.
Perjalanan menuju hotel di area Meudon terasa sunyi. Jalan raya Paris di musim dingin tampak berbeda dari bayangan saya—tidak ramai turis, tidak penuh warna cerah. Justru tenang, dingin, dan elegan.
Kami menginap di HOTEL Paris Meudon Vélizy.
Malam itu saya tidak langsung tidur. Rasa lelah karena perjalanan panjang kalah oleh rasa penasaran yang belum juga reda.
Alih-alih memejamkan mata, saya justru mengobrol dengan teman sekamar saya—seorang perempuan cantik dengan senyum hangat dan hati yang, ternyata, lebih hangat lagi.
Belum lama kami saling memperkenalkan diri, ia sudah membuka tasnya dan mengeluarkan bekal makanan dari tanah air. “Ini buat kita,” katanya ringan, seolah berbagi adalah hal paling alami di dunia. Aroma makanan Indonesia itu memenuhi kamar hotel kecil kami. Saya tersenyum haru.
Sejak berangkat, saya membayangkan akan berburu kuliner sendiri di Eropa—mencari camilan, mencoba makanan lokal, menikmati suasana malam Paris. Namun kenyataan berkata lain. Di luar, suhu hanya beberapa derajat di atas nol. Jalanan sepi, angin menusuk, dan sebagai perempuan yang belum mengenal area sekitar, saya tak cukup berani keluar sendirian malam itu. Keinginan untuk jajan pun saya simpan rapat-rapat.
Dan di situlah saya belajar: sering kali yang menghangatkan perjalanan bukanlah makanan mahal, melainkan kebaikan sederhana dari seseorang yang baru kita kenal beberapa jam.
Malam pertama di Eropa tidak saya habiskan di bawah lampu kota Paris.
Saya menghabiskannya dengan persahabatan yang baru tumbuh—dan itu jauh lebih bermakna.
## Hari 2 – Antara Belanja dan Sejarah yang Megah
Pagi dimulai dengan perjalanan menuju La Vallée Village, surga belanja bagi pencinta brand internasional. Outlet ini tertata seperti desa kecil yang cantik, butik-butik berderet rapi, mantel panjang dan scarf tebal menjadi pemandangan umum di udara dingin pagi itu.
Siang harinya kami menuju Palace of Versailles, simbol kejayaan monarki Prancis.
Google Maps:
La Vallée Village: https://maps.google.com/?q=La+Vallée+Village
Palace of Versailles: Google Maps
Meski tidak sempat masuk ke bagian dalam istana karena keterbatasan waktu, saya tetap merasa puas. Dalam waktu singkat itu, saya menikmati taman-taman luas yang mengelilinginya—tertata rapi, simetris, dan terasa begitu megah.
Setelah berjalan menyusuri area di samping kiri istana, saya menyadari kompleks ini jauh lebih luas dari yang saya bayangkan. Kolam-kolam besar memantulkan langit musim dingin, deretan pepohonan membentuk seperti hutan kecil, menjadi bingkai alami bagi kemegahan istana siang itu.
Di sekitar gerbang, angin berembus sangat kencang. Dingin yang dibawanya terasa tajam, menembus mantel tebal yang saya kenakan. Namun ketika kami bergerak lebih masuk ke area taman, suasananya terasa sedikit lebih hangat—seolah dinding istana yang megah itu menjadi pelindung alami dari terpaan angin.
Taman Versailles tampak sunyi tanpa bunga bermekaran, namun justru di situlah pesonanya. Ada gema masa lalu yang tak terdengar, namun terasa. Dan di sana, saya berdiri sebagai pengunjung kecil dalam sejarah yang begitu besar.
## Hari 3 – Paris, yang Lebih Indah dari Imajinasi
Hari ketiga adalah hari penuh simbol dunia.
Kami memulai dari pelataran Louvre Museum, lalu singgah di Champs-Élysées dan berjalan menuju Arc de Triomphe.
Sore hari, kami menikmati pelayaran di Sungai Seine bersama Bateaux Parisiens. Paris terlihat berbeda dari atas air—tenang dan elegan.
Puncaknya tentu saja saat melihat Eiffel Tower dari dekat.
Di Trocadéro, saya berdiri menatapnya cukup lama.
Google Maps:
Champs-Élysées: https://maps.google.com/?q=Champs-Élysées
Arc de Triomphe: Google Maps
Louvre Museum: Google Maps
Eiffel Tower: Google Maps
Sore itu, saat menunggu bus, suasana di sekitar mendadak lebih ramai. Rupanya sedang berlangsung demonstrasi tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Beberapa polisi berjaga siaga, mobil patroli terparkir dengan lampu biru kemerahan yang sesekali berpendar di bawah langit senja. Ada ketegangan tipis, namun bukan kepanikan. Situasi tetap terkendali.
Dan di situ saya kembali sadar—sebuah kota bukan hanya tentang bangunan indahnya, tetapi juga tentang dinamika manusia yang hidup di dalamnya.
## Hari 4 – Brussels, Kota yang Kontras
Tujuan pertama kami pagi itu, melihat dari dekat bangunan Atomium—struktur futuristik yang kontras dengan arsitektur klasik kota.
Di pusat kota Brussels, kami melihat Manneken Pis, kecil namun legendaris dan tidak lupa melihat keindahan bangunan Royal Palace of Brussels.
Google Maps:
Manneken Pis: Google Maps
Royal Palace: Google Maps
Atomium: Google Maps
## Hari 5 – Belanda & Perjalanan Menuju Jerman
Pagi di Belanda dimulai di Zaanse Schans. Deretan kincir angin berdiri di tepi sungai, menciptakan pemandangan klasik yang fotogenik. Kami mengunjungi pabrik keju dan melihat proses pembuatan clog.
Siang hari kami memasuki Jerman dan singgah di Cologne Central Mosque, sebelum bermalam di area Frankfurt.
Google Maps:
Zaanse Schans: Google Maps
Cologne Central Mosque: Google Maps
## Hari 6 – Heidelberg & Colmar
Kastil Heidelberg berdiri di atas bukit, menghadap Sungai Neckar.
Sore hari kami tiba di Colmar. Kota ini sering digambarkan seperti ilustrasi dalam buku cerita. Namun kami tiba saat langit sudah gelap, dan keesokan paginya kabut masih bergelayut enggan pergi.
Kami melihatnya, tapi tidak sepenuhnya. Seolah kota itu berbisik, “Datanglah lagi.”
Google Maps:
Heidelberg Castle: Google Maps
Colmar Old Town: Google Maps
## Hari 7 – Swiss yang Membuat Saya Diam
Di Mount Titlis, saya melihat salju ada dimana-mana.
Lucerne menyambut dengan Chapel Bridge dan danau yang tenang.
Google Maps:
Mount Titlis: Google Maps
Chapel Bridge: Google Maps
Hari 8 & 9 – Lauterbrunnen hingga Milan
Di Lauterbrunnen, Staubbach Falls jatuh seperti pita putih di antara tebing batu.
Hari itu kami menutup perjalanan di kota mode, Milan. Kaki rasanya sudah bukan milik sendiri. Seharian berjalan menyusuri piazza, berfoto di depan bangunan klasik, dan menyerap atmosfer Italia yang hangat membuat energi kami benar-benar terkuras. Malam itu, satu hal yang kami inginkan hanya kembali ke hotel, berkemas, dan beristirahat sebelum esok pulang.
Meeting point sudah ditentukan. Waktu sudah disepakati. Semua hadir—kecuali satu orang. Rio, peserta asal Timor Leste, tak kunjung muncul.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Telepon tak terjawab. Sementara itu, rombongan sudah benar-benar lelah dan mulai gelisah. Setelah diskusi dan penuh rasa bersalah, akhirnya kami mengambil keputusan yang tak terhindarkan: pergi ke hotel tanpa Rio.
Salah satu dari kami terus mencoba menghubunginya. Akhirnya tersambung juga. Dengan nada antara panik dan menyesal, Rio menerima kenyataan bahwa ia harus naik taksi sendiri menuju hotel. Malam itu, Milan memberinya pelajaran kecil yang cukup mahal: 50 euro.
Keesokan pagi sesaat sebelum kami naik bis, kami sengaja menemuinya, kami tak bisa menahan tawa. Bukan menertawakan, tapi karena momen itu terasa begitu manusiawi. Di tengah perjalanan lintas negara yang penuh jadwal ketat dan destinasi megah, justru kejadian sederhana seperti inilah yang membuat cerita kami terasa hidup.
Perjalanan ini bukan hanya tentang enam negara dalam sembilan hari. Bukan hanya tentang foto-foto indah atau cap paspor yang bertambah. Tapi tentang kebersamaan, tentang belajar disiplin di negeri orang, tentang solidaritas, dan tentang cerita-cerita kecil yang kelak akan selalu kami ulang dengan tawa.
Dan bagi Rio, Milan akan selalu dikenang bukan hanya sebagai kota fashion—
tapi sebagai kota 50 euro. Consigli se vai da solo: cerca di avvicinarti agli altri per non perdere gli aggiornamenti e poterci prendere cura a vicenda.
Perjalanan berakhir di Milan. Kami singgah di San Siro Stadium sebelum menuju
bandara.
Google Maps:
Lauterbrunnen: Google Maps
Staubbach Falls: Google Maps
San Siro Stadium: Google Maps
Milan Malpensa Airport: Google Maps
Pesawat kami akhirnya lepas landas dari Italia.
Dari jendela kecil itu, saya melihat daratan Eropa perlahan menjauh—gunung, kota, dan jalan-jalan panjang yang beberapa hari terakhir kami lintasi. Sembilan hari terasa seperti satu tarikan napas yang panjang. Begitu cepat, namun begitu penuh.
Sebagian dari rombongan langsung melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Mereka kembali ke rutinitas, ke rumah, ke kehidupan yang menunggu. Namun sebagian dari kami—termasuk saya—tidak benar-benar “pulang”.
Kami melanjutkan perjalanan ini ke arah yang berbeda. Dengan visa Schengen yang masih tertempel di paspor, kami terbang menuju tanah yang sejak lama ada dalam doa-doa kami. Dari benua dengan istana dan salju, kami menuju kota yang suci. Dari menara Eiffel dan pegunungan Alpen, kami melangkah ke arah Ka’bah.
Perjalanan ini ternyata belum selesai.
Jika Eropa mengajarkan saya tentang mimpi, sejarah, dan luasnya dunia, maka langkah berikutnya adalah tentang pulang—bukan pulang ke rumah, tetapi pulang kepada Yang Maha Memiliki segala perjalanan.
Di dalam pesawat, saya memejamkan mata. Hati terasa penuh. Bukan hanya oleh kenangan tentang enam negara, tetapi juga oleh rasa syukur yang tak terucap.
Dan ketika niat itu terucap dalam hati, kalimat itu mengalir begitu saja, lembut namun mantap:
Labbaik Allahumma labbaik.
Labbaika laa syariika laka labbaik.
Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Setelah melintasi negeri-negeri yang indah, kini aku melangkah menuju rumah-Mu.
Perjalanan ini bukan hanya tentang sejauh apa kaki melangkah. Tetapi tentang ke mana hati akhirnya kembali.
Dan di sanalah, saya menyadari—semua perjalanan, sejauh apa pun, pada akhirnya adalah tentang pulang.













































































