Paris tak selalu butuh waktu lama untuk membuat jatuh cinta, cukup dua hari, langkah ringan, dan sedikit rasa ingin tahu, kota ini sudah mampu bercerita lebih dari yang kita bayangkan.
Perjalanan dari Jakarta menuju Paris kami tempuh dalam dua etape, sekitar sembilan jam penerbangan pertama dengan transit tiga jam di Jeddah, lalu enam jam berikutnya hingga akhirnya mendarat di Paris Charles de Gaulle Airport. Lelah tentu ada, tapi malam pertama kami pilih untuk beristirahat, memberi tubuh jeda sebelum menyapa kota yang selama ini hanya kami kenal lewat foto dan film.
Hari Pertama: Desa Mode dan Jejak Raja
La Vallée Village menawarkan sisi Paris yang berbeda, bukan tentang istana atau museum, melainkan tentang gaya hidup dan kenikmatan berbelanja dalam suasana desa Eropa yang cantik. Terletak tak jauh dari Paris, outlet mewah ini menjadi destinasi favorit wisatawan yang ingin membawa pulang fesyen berkelas dengan harga lebih bersahabat.
Dirancang menyerupai desa kecil bergaya Prancis, La Vallée Village dipenuhi jalanan terbuka, bangunan pastel, dan etalase butik yang tertata rapi. Lebih dari 100 butik brand internasional dan desainer ternama hadir di sini, menawarkan koleksi busana, tas, sepatu, hingga aksesori dengan potongan harga sepanjang tahun.
Tak hanya soal belanja, pengalaman di La Vallée Village juga terasa santai. Wisatawan bisa berjalan ringan sambil menikmati kopi, pastry Prancis, atau hidangan restoran di sela-sela berburu diskon. Saat musim liburan, dekorasi tematik membuat suasana semakin hangat dan fotogenik.
Yang bisa dinikmati wisatawan:
Belanja brand desainer dengan diskon menarik
Kafe & restoran untuk bersantai
Spot foto estetik ala desa Eropa
Tax refund bagi turis non-Uni Eropa
Info penting untuk turis:
Lokasi: Serris, dekat Disneyland Paris
Google Maps
Akses: RER A (Val d’Europe) ±40 menit dari pusat Paris
Durasi kunjungan: 2–4 jam
Tiket masuk: Gratis
Tips: Datang pagi hari dan cek promo musiman untuk penawaran terbaik
La Vallée Village adalah tempat di mana mode, kenyamanan, dan suasana liburan berpadu sempurna. Sebuah jeda menyenangkan dalam perjalanan travelling—pulang dengan tas belanja, cerita seru, dan senyum puas.
**
Istana Versailles adalah potret kemewahan Prancis yang seolah membekukan waktu. Terletak tak jauh dari Paris, kompleks megah ini pernah menjadi pusat kekuasaan monarki Prancis dan simbol absolut kejayaan Raja Louis XIV, sang Raja Matahari.
Awalnya hanyalah pondok berburu, Versailles kemudian berkembang menjadi istana raksasa dengan arsitektur klasik yang anggun, dihiasi detail emas, langit-langit lukisan megah, dan ruang-ruang istana yang sarat intrik sejarah. Bagian paling ikoniknya adalah Hall of Mirrors (Galerie des Glaces)—ruang cermin panjang yang memantulkan cahaya taman dan menjadi saksi peristiwa besar, termasuk penandatanganan Perjanjian Versailles.
Di luar bangunan utama, terbentang taman Versailles yang luas dan tertata simetris, lengkap dengan kolam, patung, serta pertunjukan air mancur musikal yang memukau di musim tertentu. Wisatawan juga bisa mengunjungi Grand Trianon, Petit Trianon, dan desa kecil Hameau de la Reine, tempat Ratu Marie Antoinette mencari ketenangan dari kehidupan istana.
Yang bisa dinikmati wisatawan:
Menjelajahi ruang-ruang kerajaan dan galeri bersejarah
Berjalan santai atau bersepeda di taman istana
Menyaksikan Musical Fountain Show (musiman)
Mengabadikan arsitektur dan lanskap ikonik Prancis
Info penting untuk turis:
Lokasi: Versailles, ±45 menit dari Paris (RER C)
Google Maps
Durasi kunjungan: 3–5 jam (bahkan seharian jika ingin santai)
Tiket: Disarankan beli online untuk menghindari antre panjang (terdapat area gratis untuk foto di luar Museum)
Waktu terbaik: Pagi hari atau hari kerja
Tips: Gunakan sepatu nyaman—areanya sangat luas
Versailles bukan sekadar istana, melainkan cerita tentang kekuasaan, seni, dan kemewahan yang masih bergema hingga hari ini. Berkunjung ke sini adalah perjalanan menyusuri puncak kejayaan Prancis, di mana setiap lorong dan taman menyimpan kisah yang tak lekang oleh waktu.
Hari Kedua: Paris dalam Bingkai Ikonik
Museum Louvre adalah pertemuan megah antara sejarah dan seni, tempat Paris menyimpan warisan dunia di balik dinding istana tua. Berdiri di tepi Sungai Seine, Louvre awalnya merupakan benteng abad ke-12, sebelum bertransformasi menjadi istana kerajaan dan akhirnya menjelma sebagai museum seni terbesar di dunia.
Ikon modernnya, piramida kaca, menjadi gerbang menuju labirin galeri yang menampung lebih dari ratusan ribu karya seni dari berbagai peradaban. Dari senyum misterius Mona Lisa, kemegahan Venus de Milo, hingga relief kuno Mesir dan lukisan Renaisans, setiap ruang menawarkan perjalanan lintas zaman dan budaya.
Tak hanya koleksinya, arsitektur Louvre sendiri adalah pengalaman. Perpaduan bangunan klasik dan sentuhan modern menciptakan suasana yang elegan, sekaligus mengagumkan, terutama saat malam, ketika cahaya memantul di piramida dan halaman istana.
Yang bisa dinikmati wisatawan:
Menjelajahi galeri seni kelas dunia
Mengagumi arsitektur istana bersejarah
Berfoto di Cour Napoléon dengan latar piramida kaca
Beristirahat di kafe museum atau taman sekitarnya
Info penting untuk turis:
Lokasi: Pusat Paris, tepi Sungai Seine
Google Maps
Durasi kunjungan: 2–4 jam (bisa seharian untuk pecinta seni)
Tiket: Disarankan beli online untuk akses lebih cepat (terdapat area gratis untuk foto di luar Museum)
Waktu terbaik: Pagi hari atau jadwal buka malam tertentu
Tips: Gunakan peta atau audio guide agar kunjungan lebih efektif
Louvre bukan sekadar museum, ia adalah petualangan budaya, di mana setiap langkah membuka kisah peradaban manusia. Sebuah destinasi yang membuat perjalanan ke Paris terasa benar-benar lengkap.
**
Arc de Triomphe berdiri gagah di jantung Paris sebagai monumen kemenangan dan penghormatan. Terletak di tengah Place Charles de Gaulle, bangunan ini menjadi titik temu dua belas jalan utama, termasuk Champs-Élysées yang legendaris.
Diperintahkan oleh Napoleon Bonaparte pada awal abad ke-19, Arc de Triomphe dibangun untuk mengenang jasa tentara Prancis. Dindingnya dihiasi ukiran relief dramatis yang menggambarkan pertempuran dan nama-nama jenderal, sementara di bawah lengkungannya terletak Makam Prajurit Tak Dikenal dengan api abadi yang terus menyala—simbol pengorbanan tanpa nama.
Daya tarik utama bagi wisatawan adalah teras pandang di puncak monumen. Setelah menaiki ratusan anak tangga atau lift sebagian, pengunjung disuguhi panorama Paris 360 derajat—menara Eiffel, deretan atap kota, hingga Champs-Élysées yang membentang lurus dan megah, terutama indah saat matahari terbenam.
Yang bisa dinikmati wisatawan:
Mengamati detail pahatan sejarah di fasad monumen
Mengunjungi Makam Prajurit Tak Dikenal
Menikmati pemandangan kota dari rooftop
Berfoto dengan latar ikon Paris
Info penting untuk turis:
Lokasi: Place Charles de Gaulle, Paris
Google Maps
Akses: Metro Charles de Gaulle–Étoile (terowongan pejalan kaki)
Durasi kunjungan: 1–1,5 jam
Tiket: Diperlukan untuk naik ke puncak
Waktu terbaik: Sore hari menjelang sunset
Tips: Gunakan sepatu nyaman dan perhatikan arah lalu lintas saat menuju akses bawah tanah
Arc de Triomphe bukan hanya monumen batu, melainkan penjaga memori sejarah Prancis. Dari puncaknya, Paris terasa terbentang utuh, sebuah momen hening di tengah hiruk pikuk kota yang tak terlupakan.
**
Bateaux Parisiens menghadirkan cara paling santai dan romantis untuk mengenal Paris, mengalir perlahan di atas Sungai Seine, sambil menyaksikan ikon-ikon kota dari sudut pandang yang berbeda. Berangkat dari area dekat Menara Eiffel, kapal pesiar ini telah lama menjadi bagian dari pengalaman wisata Paris modern.
Dengan kapal beratap kaca yang elegan, Bateaux Parisiens memungkinkan penumpang menikmati pemandangan tanpa terhalang, baik siang maupun malam. Sepanjang perjalanan, landmark terkenal seperti Menara Eiffel, Louvre, Musée d’Orsay, Notre-Dame, hingga deretan jembatan bersejarah tampak berbaris anggun di tepi sungai, seolah Paris sedang memamerkan dirinya.
Yang bisa dinikmati wisatawan:
Berlayar menyusuri Sungai Seine
Audio guide tentang sejarah dan bangunan ikonik Paris
Pemandangan jembatan dan landmark terkenal
Info penting untuk turis:
Dermaga utama: Port de la Bourdonnais (dekat Menara Eiffel)
Google Maps
Durasi cruise: ±1 jam (sightseeing), lebih lama untuk dinner cruise
Tiket: Tersedia online, disarankan reservasi
Waktu terbaik: Senja hingga malam hari
Tips: Pilih tempat dekat jendela atau dek terbuka untuk foto terbaik
Bateaux Parisiens bukan sekadar perjalanan air, melainkan cara menikmati Paris dengan tempo yang lebih pelan, membiarkan kota cinta ini bercerita lewat cahaya, arsitektur, dan aliran Sungai Seine.
**
Menara Eiffel dan Trocadéro adalah pasangan ikonik yang menghadirkan Paris dalam satu bingkai sempurna. Dari kejauhan, siluet besi Menara Eiffel menjulang anggun, sementara area Trocadéro di seberang Sungai Seine menjadi panggung terbaik untuk mengagumi keindahannya.
Dibangun pada 1889 untuk Pameran Dunia, Menara Eiffel awalnya menuai kontroversi, namun kini justru menjadi simbol global Prancis. Struktur besi setinggi lebih dari 300 meter ini menawarkan pengalaman berlapis: dari taman di kaki menara, restoran di ketinggian, hingga dek observasi yang menyajikan panorama Paris sejauh mata memandang.
Di sisi lain, Trocadéro menghadirkan ruang terbuka dengan teras luas dan Air Mancur Warsawa yang simetris. Tempat ini bukan hanya favorit fotografer, tetapi juga titik berkumpul untuk menikmati suasana kota, terutama saat senja, ketika langit berubah warna dan Menara Eiffel mulai berkilau setiap jam di malam hari.
Yang bisa dinikmati wisatawan:
Naik ke lantai observasi Menara Eiffel
Berfoto ikonik dari Trocadéro
Bersantai di Champ de Mars
Menyaksikan lampu Menara Eiffel di malam hari
Info penting untuk turis:
Lokasi: Distrik ke-7 Paris (Eiffel) & Place du Trocadéro
Google Maps
Akses: Metro Trocadéro, Bir-Hakeim, atau École Militaire
Durasi kunjungan: 2–3 jam
Tiket: Disarankan beli online untuk naik menara
Waktu terbaik: Sore hingga malam hari
Tips: Datang lebih awal untuk foto tanpa keramaian
Menara Eiffel dan Trocadéro bukan sekadar destinasi, melainkan pengalaman klasik Paris, tempat di mana romansa, sejarah, dan keindahan kota bertemu dalam satu momen tak terlupakan.
Did I fall in love with Paris? No! But I fell in love with you in Paris

















