De Djawatan Forest Banyuwangi: Hutan Tua yang Mengajarkan Tenang, Meski Hujan Mengguyur

Ada beberapa tempat yang tidak hanya kita kunjungi, tetapi juga kita rasakan.
De Djawatan Forest di Banyuwangi adalah salah satunya.

Hutan tua ini seolah menyimpan cerita panjang-diam, teduh, megah dan entah bagaimana… hati kita ikut larut dalam suasananya sejak langkah pertama masuk.

Dan yang membuatnya lebih spesial:
tempat ini adalah tujuan penutup dari rangkaian perjalanan OPEN TRIP Banyuwangi bersama Jong Java Trip. Setelah menjelajahi begitu banyak spot menakjubkan, De Djawatan memberi kesan paling sunyi, paling hangat, dan paling membekas.

Terkadang, perjalanan terbaik bukan hanya tentang apa yang kita lihat tetapi tentang apa yang kita rasakan saat berdiri diam di tengah hutan yang telah hidup jauh lebih lama dari kita.

Sore itu hujan turun deras, rasanya semua rencana untuk menikmati keindahan hutan ini bisa saja hilang begitu saja. Tapi entah kenapa, ada dorongan kuat dari dalam diri untuk tetap melangkah. Mungkin karena sejak lama saya ingin melihat sendiri bagaimana megahnya pohon-pohon trembesi raksasa yang membentuk lorong hijau bak negeri fantasi.

Dan benar saja, meski hujan mengguyur tanpa kompromi, semangat itu tidak surut sedikit pun.

Begitu memasuki area De Djawatan, saya langsung merasa seperti berada di dunia lain. Pepohonan trembesi yang usianya puluhan hingga ratusan tahun berdiri kokoh, menjulang tinggi, dengan batang-batang penuh lumut yang tampak seolah hidup.

Hujan deras yang sebelumnya terasa mengganggu, tiba-tiba berubah jadi suara latar yang menenangkan. Tapi justru di situlah keindahannya terasa lengkap. Pohon-pohon trembesi berlumut, udara lembap, tanah basah, dan cahaya sore yang tertahan awan… semuanya seperti membingkai hutan ini menjadi lukisan hidup. Seakan hutan ini sengaja memayungi para pengunjungnya, membiarkan air hujan hanya jatuh sebagai bisikan lembut di antara dedaunan.

Meski basah, saya tetap melangkah masuk, mengabadikan momen dengan video dan foto dan setiap sudutnya sungguh magical. Ada kesan mistis tapi tenang, tua tapi penuh kehidupan.

Salah satu hal yang paling saya sukai: De Djawatan berada cukup dekat dari pusat Banyuwangi, tepatnya di:

:round_pushpin: Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi – hanya sekitar 30–40 menit dari kota.

Lokasinya mudah dijangkau, akses jalannya bagus, dan cukup dekat dengan banyak destinasi lain. Cocok sekali dijadikan pemberhentian sore atau perjalanan santai sebelum sunset meski sore itu saya disambut hujan sebagai gantinya.

Sebagai kawasan wisata alam, fasilitas di De Djawatan sudah termasuk lengkap untuk ukuran hutan konservasi:

  • Area parkir cukup luas

  • Toilet dan musala

  • Warung kecil untuk camilan & minuman hangat

  • Spot foto alami yang tersebar hampir di seluruh area

  • Tukang foto profesional (opsional)

  • Gazebo dan tempat duduk

Meskipun hujan deras membuat beberapa area tanah menjadi sedikit becek, fasilitasnya tetap berfungsi dengan baik, dan para penjaga tetap ramah membantu pengunjung.

Yang membuat De Djawatan semakin menarik bukan hanya keindahannya, tetapi juga sejarahnya.

  • Kawasan ini dulunya adalah hutan lindung yang dikelola sejak zaman kolonial Belanda.

  • Trembesi-trembesi besar di sini termasuk yang paling tua di Banyuwangi.

  • Pohon-pohon raksasa ini dulunya berfungsi sebagai “penjaga air” atau pelindung kawasan dari erosi dan kekeringan.

  • Baru beberapa tahun terakhir De Djawatan dikembangkan menjadi destinasi wisata resmi oleh Perhutani.

Tidak heran banyak orang menyebutnya sebagai “Fangorn Forest”-nya Banyuwangi karena benar-benar mirip latar film fantasi.

Saya sempat berpikir, “Apa bisa menikmati hutan saat hujan deras?”
Ternyata bisa. Bahkan lebih magis dari pada saat cuaca cerah.

Kabut tipis yang muncul setelah hujan membuat pohon-pohon trembesi tampak semakin dramatis. Angin yang berembus membawa aroma tanah basah yang menyegarkan. Dan meski tubuh basah kuyup, hati justru penuh rasa syukur bisa menyaksikan keindahan ini secara langsung.

Saya berfoto dan merekam video sebisa mungkin, meski tangan hampir beku. Dan setiap potongan rekaman membuat saya ingin kembali lagi ; mungkin di pagi hari, mungkin di golden hour, atau mungkin tetap di sore hujan seperti hari itu.

Di tengah hidup yang serba cepat, De Djawatan seakan berkata pelan,
“Tenanglah sebentar. Nikmati napasmu. Dengarkan alam.”

Walaupun hujan deras sempat mengguyur, kunjungan ke sini tetap menjadi salah satu momen paling menenangkan bagi saya. Ada sesuatu dari hutan tua ini yang sulit dijelaskan… seolah ia menyimpan keheningan yang siap membalut kita begitu masuk ke dalamnya.

Jika kamu ke Banyuwangi, jangan lewatkan De Djawatan.
Datanglah dengan hati yang siap untuk tenang, sebab hutan ini selalu punya caranya sendiri membuat kita jatuh cinta bahkan kala hujan paling deras sekalipun.

Maps of De Djawatan Forest

13 Likes

@inadwiana Wow, it’s very amazing nature!

1 Like

Wow. Semestinya aku ga mager terus turun buat foto2 ya

1 Like

Thank you @SophatCHY

Iya hehehe.. he

Teh ina ulasannya bener benef mantap

1 Like

Terima kasih mbakku @IndriP :heart_eyes:

Very nicely articulated and narration of a magical experience, @inadwiana :+1:

The photos bring out the best of the place and its vibes, giving us a virtual tour of the Djawatan forest.

1 Like

Thank you! @TusharSuradkar I’m happy to hear that the photos and story brought the Djawatan vibes to life. It’s such a stunning place, and I’m grateful I could share a glimpse of it.

1 Like