Ngopi Pagi di STMJ Wak Jo Singosari

Tak semua hal mesti dicari signifikansinya. Ini hanya kisah di pagi yang biasa, bersama mi dan secangkir kopi.
_______

NGOPI PAGI DI STMJ WAK JO SINGOSARI

**Penulis: @iorikun301 **

“Kopi itu ibarat jamu sehatku setiap hari. Aku tahu bener, mana kopi yang enak dan mana yang tidak. Kata temenku, kopi di sini enak sekali.”

Itu adalah potongan dialog dari cerita Filosofi Kopi karya Dewi Lestari dalam buku Filosofi Kopi, Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade (2006). Buku inilah yang pertama kali membuat kami jatuh cinta dengan pahit air seduhan biji kopi, selain tentu saja mantan pacar yang selalu menyuguhkan secangkir kopi tiap kami mampir ke rumahnya di malam Minggu untuk menemani ayahnya mengisi teka teki silang.

Ya, kopi tak melulu mesti dinikmati sebagai jamu sehat, minuman pengusir kantuk, pun untuk mencecap kompleksitas rasanya. Lain dari itu, kopi dinikmati sebagai minuman sosial. Teman berbincang. Seperti pagi itu kami ngopi di warung STMJ Wak Jo, Singosari.

NGOPI PAGI DI STMJ WAK JO

Tak mudah menemukan kedai kopi yang sudah buka jam 8 pagi di daerah pinggiran kota seperti Singosari ini. Padahal kami ingin sekali ngopi di Starbucks. Biar pro!

Ketika membuka aplikasi Google Maps di gawai dan mengetikkan kata kunci “kopi” di kolom pencarian serta memilih opsi penyaringan “buka sekarang,” ternyata hanya ada beberapa kedai kopi yang sudah buka. Salah satunya warung STMJ Wak Jo, Jl. Raya Singosari 73.

Kami tahu tempatnya! Di Google Maps warung ini mendapat 4.2 bintang dari 115 ulasan/penilaian. “It’s a nice place to have a chat with friends. Personally I like their sticky rice. The coffee sachetan was like at the other diner. Fair price, good service,” tulis salah seorang Local Guides di laman ulasan.

Ckekk… Brrmm!!

Kami menyalakan mesin Vespa dan segera melaju ke warung STMJ Wak Jo. Menggunakan fitur navigasi Google Maps untuk sampai ke sana? Oh, tidak perlu! Dari tadi kami sudah di depan warungnya, kok. Tinggal menyeberang jalan saja.

Setelah memarkir Vespa di depan pintu, kami pun masuk. Ternyata belum ada satupun pengunjung. Bahkan Wak Jo masih sarapan. Kami memilih duduk di meja lesehan. Dekat jalan raya, di samping sungai, di depan kamar mandi.

“Pelayan!” perintah kami seperti di iklan iklan. “Kami mau kopi yang paling enak!!”

MI DAN KOPI SAHABAT KAMI

Kami orang malang. Ke mana pergi nyaris selalu sendiri. Termasuk ketika ingin ngopi seperti di pagi itu. Karenanya selain memesan secangkir kopi kami pun memesan seporsi mi instan goreng sebagai kudapan untuk menemani kopi.

“Ketannya belum matang, Tuan,” kata si penjaga warung. Ah! Padahal kopi dan ketan adalah alasan kami ke sini. Tapi tak apa, mi dan kopi tetap sahabat kami. Setiap hari kami minum kopi, setiap minggu kami makan mi.

Tak sampai tiga menit, kopi pesanan kami diantarkan ke meja. Kopi hitam yang panas. Uap nampak mengepul ketika kami buka tutup cangkirnya. Harum! Kami seruput. Panas! Bibir dan ujung lidah kami melepuh. Kurang pro! Mestinya ditunggu dulu 5 menit biar panasnya sedikit berkurang. Tapi tak apa. Karena kalau tidak begini, tak ada cerita, bukan?

Kopi hitam yang disajikan di sini bukan jenis kopi specialty, yang mesti diseduh dan diminum dengan cara tertentu untuk memaksimalkan cita rasanya. Tidak! Kopi hitam di warung STMJ Wak Jo ini cuma kopi pasar biasa.

Kopi tanpa merek, tanpa penanda geografi, tanpa penjelasan proses pengolahan apakah natural, honey process, bagaimana penyangraiannya, dan sebagainya. Pokoknya kopi, yang hitam, digiling, dan diseduh dengan air dari cerek di atas kompor. Begitu bersahaja, begitu sederhana, begitu biasa biasa saja. Tapi…, ngopi tak melulu tentang cita rasa, bukan?

Tak ada apa apa, tak sedang ada perayaan apa apa, hanya hari yang seperti biasa. Kopi dan mi pesanan kami dibandrol 9 ribu rupiah. Pagi yang menyenangkan!

15 Likes

Ngopi paling enak kalau ramean, sih. Sambil ngobrol. Kalau sendirian begini, ya, sambil ngelamun ngeliatin mobil di jalan!? Wkwkk…

What a start of the day ya mas @iorikun301 … Ngopi dan sarapan enak memang buat happy. Dan ngg harus ribet… sesuatu yang sederhana pun bisa jadi awal hati yang membahagiakan ya. Salam…

1 Like

Jujurly saya pribadi pengennya sarapan fine dining atau ala rijsttafel, Bu @indahnuria . Tapi sayangnya masih kepagian. Dan menunya memang tidak ada. Hahaa…

Akhirnya cukup sarapan dengan mi dan kopi :sweat_smile: :sweat_smile: