Sedang asyik asyiknya menatap laptop, tiba tiba istriku @Elninik yang asyik nonton TV dan lihat pak Jokowi, Presiden RI sedang menikmati perjalanan menggunakan transportasi umum LRT.
Yok kita nyoba LRT.
Langsung cari tanggal yang pas buat bepergian
Kami berdua punya spesifikasi khusus kalau pergi ke destinasi wisata atau bepergian.
- Tanggal Tua
- Jam - jam perjalanan tidak sibuk.
Pilihan jatuh hari Kamis tanggal 31 Agustus 2023 sekitar jam 10 dan jam 17.00 sudah tidak di transportasi umum.
Pilihan ini dibuat untuk menghidari kemacetan dan juga kepadatan pengunjung.
Persiapan berikutnya memastikan dua kartu e-money cukup saldo, sehingga saya harus ke anjungan tunai mandiri untuk top-up.
Selanjutnya bongkar Google Maps untuk mendapatkan rute termurah dan terdekat.
Kamis pagi berangkat dari rumah menuju Stasiun Cilebut dengan sepeda motor, sepeda motor dititipkan di Penitipan sepeda Motor H. Khoir dan berjalan kaki menuju Stasiun Cilebut. Stasiun Cilebut menuju Stasiun Manggarai dilanjutkan menuju Stasiun Sudirman, menuju Stasiun Dukuh Atas.
Stasiun LRT Dukuh Atas dan Stasiun KRL Sudirman disambung dengan Jembatan Penyeberangan Multiguna.
Praktis penumpang dari Stasiun Cilebut sampai ke Stasiun LRT terlindung dari panas dan hujan.
Keluar dari Stasiun Sudirman harus tapping kartu e-money kemudian di Stasiun LRT Dukuh Atas kembali untuk tapping-in. naik dengan eskalator tidak lama menunggu datang LRT menuju Stasiun LRT Jatimulya-Bekasi.
Rasa penasasran saya adalah jembatan lengkung arah dari Kuningan menuju Gatot Subroto, karena ramai dipersoalkan bahwa ada salah desain, karena LRT harus menurunkan kecepatannya, yang katanya sampai 5 kilometer per jam.
Sebagai orang yang suka bolak balik Bogor Jakarta saya tau betul bahawa daerah ini adalah daerah yang padat rumah, perkantoran dan pertokoan demikian pula dengan jalan rayanya yang selalu padat, sehingga saya menadari tidaklah mudah mendesain rel dan jembatan LRT dengan segala keterbatasannya.
Dalam perjalanan ini saya menyalakan Rute Google Maps dan memperhatikan kecepatan.
Pada trek lengkungan kecepatan LRT menurun menjadi 21 kilometer per jam, jauh diatas 5 kilometer per jam.
Saya juga mencatat kecepatan maksimal sampai 89 kilometer per jam di rel lurus.
Kesan mewah terasa sekali baik di Stasiun maupun di gerbong, para petugas dengan ramah membantu menjelaskan pertanyaan yang dilontarkan penumpang.
Petugas dengan pengeras suara jinjing juga memberi instruksi bagaimana penumpang harus bersikap saat menunggu kereta dan masuk kedalam kereta.
Marka dan tanda tanda lalu lintas jelas, besar dan terletak dimana mana, prioritas bagi disabilitas, pengendara sepeda lipat juga jelas.
Salah satu keunikan lain di stasiun LRT adalah Toilet pria dan wanita dipisah dan beradu punggung (back to Back) yang biasanya di stasiun Commuter Line adalah bersebelahan, mungkin dasar pemikirannya adalah keterbatasan lahan Stasiun LRT dan desain instalasi air bersih dan air kotor menjadi pertimbangan.
Saat kami berdua melakukan perjalanan ini di JPM sedang ada Festival Kuliner Nusantara, sehingga kami makan siang di JPM yang luas dan banyak pemandangan yang bisa dilihat.
Kami kembali menuju Stasiun Cilebut sebelum jam pulang kantor yang pasti akan membuat padat Commuter Line.
Berikut beberapa foto yang diambil oleh istri saya, sedangkan banyak foto dan video saya unggah di Google Maps.

