@BudiFXW pak…di daerah rumah saya masih ada yang jual sekoteng dengan cara dipikul dan berjualannya berjalan Keluar masuk kampung, cara menarik perhatian pembelinya dgn memukulkan sendok ke pinggir mangkok wadah makan itu…
Kalau melihat jajanan yang dipikul, saya jadi ingat masa-masa kecil dulu hehe… Cuma saya kebagian masa-masa itu sampai seusia SD saja, setelah itu sudah semakin jarang terlihat orang-orang yang mau berjualan dengan dipikul.
Saya ingat masih suka membeli bubur mutiara pakai sumsum hijau yang dijual secara dipikul. Terakhir, dua bulan lalu masih ada tukang sate keliling yang lewat dengan pikulannya didepan rumah.
Ya oom @BudiFXW , namanya masih kue pancong, entah kenapa dinamakan kue pancong. Tapi enggak dipikul oom. Dijual pake gerobak sorong gitu. Dan masaknya enggak lagi pake arang kayu, tp pake kompor sumbu. Orang orang Medan kayaknya ga suka makan kue pancong, tapi aku sebaliknya. Sangat jarang ditemui di Medan. Kadang kasihan liat mas2 penjualnya sering ga laku, tak borong semuanya. Murah kok Oom, cuma 500 rupiah per buah.
Terima kasih mengangkat topik ini, kalau di daerah Jakarta Utara terakhir saya ingat saat saya disana dan banyak di jual di pinggir jalan adalah bola ubi.
Di Jakarta Utara terutama saya banyak saya temui gerobak-gerobak penjual bola ubi yang berada di pinggir jalan. Bisa dimakan banyak karena rasanya yang juga tidak terlalu manis.
Selain itu, jajanan pinggiran lain yang saya gemari adalah kue ape, yang tengahnya hijau. Terakhir saya makan di Bandung, di Jakarta sudah mulai sulit ditemui.
Tapi sepertinya sekarang ini sudah tidak banyak pedagang kaki lima yang berjualan keliling ya. Kalau dulu saya masih ingat banyak pedagang kaki lima yang lewat di depan rumah mulai dari bakso, rujak, siomay, es krim dsb.