Local Guides, adakah yang suka jengkol (Archidendron pauciflorum)? Aromanya memang sangat khas, banyak yang antipati dengan makanan ini. Padahal bagi penggemarnya, jengkol ini lauk yang mewah. Harganya bisa jadi mahal jika sedang tidak musim.
Hari Minggu yang lalu saya berkesempatan bergabung dengan Bogor Local Guides untuk kembali ikut walking tour. Kalau tour sebelumnya kami ke Pulo Geulis, kali ini kami ke Kampung Labirin yang letaknya berdekatan.
Sekilas hanya kampung biasa, tetapi sebenarnya kampung ini sudah menjadi kampung pengrajin secara turun temurun. Karena itulah perangkat desa setempat tertarik untuk mengembangkan potensi wisata. Gang-gang sempitnya yang rumit disulap menjadi menarik dengan mural warna warni dan kalimat motivasi. Lalu potensi lokal seperti kesenian dan hasil kerajinan ditampilkan di jalanan gang.
Nah, di kampung ini, rupanya jengkol diolah menjadi produk selain lauk. Ada emping jengkol yang rasanya mirip emping melinjo juga keripik yang dikombinasi dengan cabai dan teri yang nikmat sekali.
Kami berkesempatan melihat proses pembuatan emping jengkol yang diperagakan oleh Ibu Fatimah. Jengkol yang sudah direbus ditumbuk hingga tipis. Setelah itu dijemur hingga kering, didiamkan sehari, barulah emping mentah digoreng atau langsung dikemas untuk dijual.
Menumbuk jengkol hingga tipis itu tidak mudah, butuh keahlian khusus. Lurah Babakan Pasar, Pak Rokib Al Qodri, yang sudah lama tinggal di lingkungan situ belum pernah berhasil menumbuk emping katanya.
Menurut Ibu Fatimah, keluarganya sudah turun temurun mengolah jengkol. Neneknya, ibunya, beliau sendiri, lalu putrinya, ahli membuat emping jengkol. Sudah empat generasi rupanya. Hebat.
Produknya selain dijual di Kampung Labirin, ada juga di kawasan Surya Kencana. Bahkan ada turis Belanda yang memborong emping jengkol untuk dibawa ke negaranya.
Produknya selain dijual di Kampung Labirin, ada juga di kawasan Surya Kencana. Bahkan ada turis Belanda yang memborong emping jengkol untuk dibawa ke negaranya.
Semoga saja emping jengkol ini bukan lagi komoditas lokal. Produknya bisa dinikmati hingga manca negara dan kerajinan emping jengkol di Kampung Labirin lebih berkembang.
Oh ya, di Kampung Labirin ada beberapa atraksi yang disajikan. Mungkin nanti bisa dilihat di Recap Meet-up Find Your Way.
Terima kasih Bogor Local Guides sudah mengadakan meet-up seru ini. Semoga terus ada meet-up lain yang selalu seru dan bermanfaat. Kepada @Nadyna29 yang sudah menjadi host, terima kasih, kamu hebat. Kepada Pak @PaDeSSo yang menempuh jarak 360 km demi acara ini, semoga Bapak selalu sehat. Kepada Mas @RiverDefender, Mas@RahmatHarmanP, dan Mbak @RizqaAmalia, terima kasih pinjaman fotonya. Juga Pak @BudiFXW yang selalu support saya untuk menulis. Semua peserta meet-up dan pihak-pihak yang telah berpartisipasi, terima kasih banyak sudah menginspirasi tulisan ini.
Apabila ada kesalahan saya mohon maaf dan mohon koreksinya di kolom komentar yah. Sampai jumpa di catatan berikutnya!





