Fenomena Unik Google Maps: Ulasan Bintang 5 Tapi Memberi Bintang 1? Yuk Bahas!


Fenomena Unik Google Maps: Ulasan Bintang 5 Tapi Memberi Bintang 1? Yuk Bahas!

Halo teman-teman kontributor dunia,

Sebagai seorang Pemandu Lokal yang aktif mengamati pergerakan ulasan di lapangan, hari ini saya menemukan sebuah fenomena unik sekaligus menggelitik batin saya saat menelusuri navigasi ulasan di salah satu tempat usaha lokal.

Biasanya, saat melakukan audit berkala, saya selalu melewatkan ulasan bintang 5 yang isinya pujian standar. Saya lebih tertarik meneliti ulasan bintang 1 yang jumlahnya sedikit, murni untuk mempelajari apa saja aspek keluhan dan perbaikan nyata yang dirasakan oleh konsumen.

Namun, ulasan yang satu ini sukses membuat saya berpikir keras! Seperti yang bisa kalian lihat pada gambar (nama akun dan nama tempat usaha sengaja saya hapus total demi menjaga privasi serta kode etik komunitas), kalimat komentarnya teramat sangat bagus. Pengulas memuji makanannya yang enak, tempatnya yang nyaman, bahkan memberikan nilai penilaian sempurna pada dasbor sub-rating: Makanan 5, Layanan 5, Suasana 5! Sama sekali tidak ada satu kata pun kritikan atau keluhan.

Tetapi anehnya, mengapa rating utama yang ditekan dan diberikan justru BINTANG 1? :sweat_smile:

Jujur, sebagai sesama kontributor yang peduli pada perkembangan UMKM, saya merasa sangat kasihan dengan pelaku usaha. Fasilitas dan pelayanannya sudah dijamin mutu terbaik, tetapi skor ratingnya harus turun secara tidak adil akibat ketidaksinambungan ulasan seperti ini.

Menurut analisis saya, fenomena eror seperti ini biasanya terjadi karena dua kemungkinan: antara pengulas tersebut masih teramat awam dengan sistem rating Google Maps (mengira angka 1 berarti Juara Nomor Satu), atau jempolnya tidak sengaja kepeleset saat menekan layar ponsel tanpa memeriksa kembali sebelum dikirim.

Bagaimana pendapat teman-teman mengenai fenomena unik ini? Apakah kalian pernah menemukan kasus eror serupa di komunitas tempat tinggal kalian masing-masing? Yuk, mari kita saling berbagi cerita dan berdiskusi di kolom komentar!

Sukses Butuh Proses!Terima kasih! I love you all! :oncoming_fist:t2::sparkling_heart::heart_hands:t2::sparkles:

@TravellerG @Ayaanali

Well said @TitikMariati but I never noticed it until you said

Oh begitu ya,?
Saya juga baru ketemu satu xixixi
Saya iseng banget ya @rosaleesha :sweat_smile:
Ngomong-ngomong kamu apa kabar cantik ?
Sehat kan ?

Maybe they believe 1 star is the best rating?

Liebe @TitikMariati, das ist auch äußerst seltsam und garantiert nicht richtig. So etwas Widersprüchliches ist mir noch nicht begegnet. :folded_hands:

Nah, itu dia bapak yang juga saya fikirkan bapak @MortenCopenhagen .
Ini di wilayah saya njih bapak.
Nampaknya , saya harus meng edukasi di mulai dari teman-teman saya njih bapak. Apa itu bintang satu, dua , tiga sampai bintang 5 . Agar tidak seperti ini lagi. Mohon doanya selalu njih bapak :folded_hands:t2::heart::folded_hands:t2::heart::folded_hands:t2::heart:

Nah kan @Annaelisa , saya senang akhirnya hal ini dapat menjadi pembahasan kita bersama dan pasti ada solusinya. Itu sebabnya saya berinisiatif untuk mengunggah hal ini di komunitas ini. Terima kasih ya sahabatku :folded_hands:t2::heart::folded_hands:t2::heart::folded_hands:t2::heart:

I have seen this too @TitikMariati and support @MortenCopenhagen’s guess “Maybe they believe 1 star is the best rating?”.

In fact, in German schools the best rating is 1 and worst is 6. Whenever I saw such a rating 1 combined with a very good review on Google Maps, I thought, those users simply didn’t read the instructions and believed the rating is similar to the rating of children at German schools.

Betul sekali, Bapak @WilfriedB. Terima kasih atas penjelasannya yang sangat menarik tentang sistem sekolah di Jerman. Poin tersebut sangat masuk akal!

Kebetulan saya tinggal di daerah pinggiran Ibu Kota Jakarta, Bapak. Di lingkungan sini memang masih banyak masyarakat yang minim pengetahuan tentang cara memberikan ulasan digital. Dari kasus ini, saya melihat betapa pentingnya edukasi mengenai cara kerja Google Maps. Berbeda dengan peringkat di sekolah yang menempatkan nomor 1 sebagai yang terbaik, di Google Maps justru bintang 5 yang paling tinggi. Itulah pentingnya ilmu!

Terinspirasi dari diskusi ini, saya berencana memanfaatkan berbagai pertemuan rutin bulanan yang saya ikuti untuk mengedukasi teman-teman di sekitar saya. Mulai dari arisan ,Wali Santri Gontor, perkumpulan warga perantauan Desa Watukaras, hingga pertemuan rutin warga di Desa Cikasungka tempat saya tinggal. Saya sangat senang bisa berbuat baik, terlebih untuk Google Maps, karena saya kira ini bisa menjadi ladang pahala kebaikan yang mendatangkan berkah tanpa perlu modal selain senyuman.Mohon doanya ya, Bapak.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada komunitas ini yang selalu membimbing saya. Dari yang awalnya tidak tahu apa-apa, sekarang menjadi jauh lebih paham. Saya sangat senang unggahan saya bisa memicu diskusi yang positif di sini. Sukses selalu untuk kita semua!

Mostly this is the reason… dear friend @TitikMariati
I have seen such mistakes many times as I have been active for over 9 years in Google Maps.

Increasing the awareness is the only way to avoid SIMILAR mistakes.

Regards
:handshake::bouquet:

Halo , Tuan @TravellerG , Terima kasih banyak atas dukungannya, Tuan TG Sahabatku !

Pengalaman 9 tahun Anda menjadi bukti nyata betapa pentingnya edukasi ini. Saya sangat setuju, meningkatkan kesadaran pengguna adalah kunci utama agar kesalahan serupa tidak terulang. .

Salam hangat selalu dari Indonesia! :hand_with_index_finger_and_thumb_crossed:t2::heart::bouquet::sparkling_heart::handshake:

This is the hard part @TravellerG and @TitikMariati. If I remember correctly, most of the users who have done this, wrote only one or very few reviews. I have no idea, how to reach those people.

Baik , Terima kasih , Bapak @WilfriedB. Bagi saya, menjangkau mereka insya Allah bukan hal yang sulit dan mustahil, meski memang membutuhkan kesabaran ekstra. Sudah ada beberapa artikel saya bapak , saya sedang mensosialisasikan mengenai bagaimana cara mengulas Google Maps. Ada di artikel saya sebelumnya dan saya malahan sampai membuat kuis juga Bapak xixixixi
Seru kan yaaa biar pada semangat saya sih dan saya juga seneng kok bersama mereka :grin:

Kebetulan, saya adalah pengurus inti PKK di desa saya dan sudah aktif mendampingi program Bapak Kepala Desa selama dua periode. Selain itu, selama lebih dari 10 tahun saya juga merangkul komunitas Wali Santri Gontor di wilayah Kabupaten Tangerang, serta paguyuban perantauan Dusun Watukaras (Ngawi) di Jabodetabek yang rutin bertemu setiap bulan. Saya bisa menyisipkan sedikit waktu di antara susunan acara tersebut . Saya kira tidak perlu waktu lama asal sering-sering di lakukan juga semoga mereka akan paham.

Selama ini saya sudah beberapa kali mengedukasi mereka tentang Google Maps. Bagaimana ha bapak cara memberikan tautan artikel saya ? Saya masih bingung pengennya saya sertakan namun belum bisa maaf saya belajar dulu ya , :folded_hands:t2:

Lalu, Setelah bergabung di Local Guides Connect, saya semakin termotivasi untuk menggalakkan gerakan ini dengan lebih serius. Tantangan terbesar saya hanyalah kurangnya ilmu agar penyampaian saya semakin lebih baik dan yang tepat. Di situlah saya sangat membutuhkan bimbingan, arahan, dan motivasi dari para senior seperti Anda. Sukses untuk kita semua!:folded_hands:t2::sparkling_heart::folded_hands:t2::sparkling_heart::folded_hands:t2::sparkling_heart::folded_hands:t2::sparkling_heart::folded_hands:t2::sparkling_heart:

Yes yes I’m fine & good :blush:

Alhamdulillah ya @rosaleesha , peluk peluk dan cium juga yaa boleh ya cantik :star_struck: :wink::hugs::face_blowing_a_kiss::smiling_face_with_three_hearts::heart_eyes::kiss_mark::heart::boxing_glove::bouquet::woman_dancing:t2:
Sehat-sehat yang cantik ,
Saya gemeeees sama kamu anak perempuan kok sudah pintar juga aktif banget. Ya sudah gak papa masih muda . Yang penting sehat-sehat yaaa :hand_with_index_finger_and_thumb_crossed:t2::sparkling_heart::folded_hands:t2:

Oops, @TitikMariati
Yeah, unfortunately I’ve seen it many times, and yes, it can be done by mistake or because some reviewers is confused about the meaning of the amount of stars in the rating.
That’s why, under the stars, Google also add the supposed meaning of that amount of stars , going from “far from Great” (1 star) to “exceptional” (5 stars)


In my opinion Google should improve a bit that part. Let’s imagine a pop-up that appears when the general rating and the specific ratings are not coherent. Something like “We noticed an inconsistency between the main rating and the specific ratings. Do you confirm your assessment, or would you like to correct it?”
This may help the user to correct it before the publication and will also help them to learn how to rate correctly

Halo Bapak Bapak @ErmesT , sebelumnya saya mohon maaf, tadi pas sedang membaca respon babak tiba-tiba mati lampu bapak saya kaget.


Saat ini di Indonesia sudah masuk jam 10 malam Bapak. Untungnya hanya sebentar saja . Mohon maaf jadi saya dapat melanjutkan respon dari bapak.

Dan Wah, terima kasih Bapak atas respon dan komentar Bapak di artikel saya ini. Sangat luar biasa ide Bapak.
Jujur, entah kenapa , saya senang sekali jika Bapak ermesT, berkomentar di unggahan saya. Rasanya itu adeeeem banget . Sekali lagi terima kasih njih bapak . Komentar bapak ini dapat menambah rasa bahagia dan semangat saya untuk terus berkontribusi.

Lalu, mengenai penemuan ulasan saya tersebut, yang kesekian kali izinkan saya untuk mengucap Terima kasih banyak atas tanggapan yang luar biasa! Menimbang penjelasan Anda, saya sangat setuju bahwa ide mengenai sistem pop-up peringatan otomatis dari Google tersebut teramat bagus dan memang harus dilaksanakan terlebih dahulu. Siapa tahu dengan adanya fitur tersebut, masyarakat justru terbantu dan tidak merasa diberatkan saat mengulas.

Jika boleh saya bagikan hasil survei lapangan, sebelum bergabung menjadi Pemandu Lokal Google, saya pribadi pun sejujurnya sama bapak xixixi , tidak mengerti apa itu rating, ulasan, serta indikator perbedaan Bintang 1 hingga Bintang 5. Di wilayah pinggiran tempat tinggal saya, budaya pencarian tempat usaha masih bersifat kuno, yaitu berdasarkan “asas katanya” atau rekomendasi lisan dari mulut ke mulut. Mungkin itu sebabnya bapak, saya beberapa kali pernah tertipu pelaku usaha yang tidak sedikit jumlahnya . Tidak apa-apa bapak, namanya belajar ya wajar pernah tertipu. Kalau tidak tertipu saya rasanya juga tidak akan menjadi pemandu lokal Google dan tidak juga bergabung di komunitas ini. Mengenal orang-orang hebat di seluruh dunia.

Hal ini tentu teramat berbeda dengan masyarakat di kota besar yang sudah sangat terbiasa menggunakan instrumen ulasan Google Maps secara matang. Atau bisa di bilang sudah cerdas digital bapak.

Mayoritas masyarakat di lingkungan lapangan saya memang masih berada di fase awam tersebut. Oleh karena itu, mari kita laksanakan saja ide sistem pop-up dari Bapak ErmesT ini! Jika fitur baru tersebut resmi diluncurkan oleh Google Pusat di masa depan, Insyaa Allah , dengan senang hati siap untuk membantu semampu saya , mensosialisasikannya kepada para pengguna di lapangan. Khususnya ya di mulai dari teman-teman terdekat saya bapak.
Mohon doanya saya sehat selalu agar dapat memberikan kontribusi terbaik saya untuk Google Maps. Terima kasih sekali lagi Bapak, salah hormat dan santun saya khusus untuk Anda dan teman-teman semua. :folded_hands:t2::ok_hand:t3::raised_fist:t2::oncoming_fist:t2::hand_with_index_finger_and_thumb_crossed:t2:

Sincere greetings and regards from Bangalore, India.
:folded_hands:

Dear friends @WilfriedB and @TitikMariati

Yes, it is very difficult to reach such LGs directly…
As rightly mentioned by our Ermest Ji, Google has to do something…
Thanks for your valuable companionship…
Regards
:handshake::heart_with_ribbon:

Baik Tuan @TravellerG , terima kasih banyak Tuan atas salamnya. Salam hangat dan hormat saya untuk Tuan TG dari Banten Indonesia :indonesia: :sparkling_heart::bouquet::hand_with_index_finger_and_thumb_crossed:t2::folded_hands:t2: