Foto layar presentasi Get Plastic yang berisi slogan mereka
Kunjungan berikutnya di hari kedua MUN 5 Bali adalah berkunjung ke Get Plastic Bali, dan jujur, aku tidak menyangka kunjungan ini akan menjadi salah satu pengalaman yang begitu membekas di pikiranku.
Suasana di Get Plastic Bali
Sebelum datang ke sini, yang aku tahu tentang Get Plastic hanyalah bahwa mereka bergerak di bidang pengolahan sampah plastik.
Tapi setelah mendengarkan cerita mereka dan melihat sendiri teknologinya, ternyata ada begitu banyak hal menarik di baliknya.
Cerita ini berawal dari Dimas Bagus Wijanarko, pendiri sekaligus ketua Get Plastic Indonesia.
Idenya bermula dari sesuatu yang sederhana: ketika mendaki beberapa gunung di Indonesia, ia melihat banyak sampah plastik berserakan di alam. Alih-alih hanya merasa prihatin, ia mulai berpikir, apakah ada cara lain untuk mengatasi masalah sampah plastik tersebut.
Ia kemudian belajar tentang teknologi ini secara otodidak dan mulai melakukan berbagai percobaan sekitar tahun 2013. Bersama tim anak-anak muda di Bali, ia mengembangkan dan menguji Mesin Pirolisis melalui berbagai percobaan. Get Plastic menyebut pengembangan mesin pirolisis mereka terus dilakukan sejak 2014.
Dan hari itu, aku bisa melihat sendiri hasil dari perjalanan panjang tersebut.
Jadi, bagaimana sebenarnya mesin ini bekerja?
Ini mungkin bagian yang paling membuatku penasaran.
Mesin tersebut menggunakan proses yang disebut pirolisis.
Sampah plastik yang sesuai terlebih dahulu dipilah dan dipersiapkan sebelum dimasukkan ke dalam reaktor. Plastik kemudian dipanaskan pada suhu tinggi dalam kondisi tanpa oksigen. Panas tersebut memecah struktur plastik dan menghasilkan uap, yang kemudian didinginkan melalui kondensor.
Hasilnya berupa cairan hidrokarbon yang dapat diproses menjadi bahan bakar.
Dan di sinilah aku benar-benar punya momen,
“Wow, aku baru tahu!”
Ternyata, jenis sampah plastik tertentu bisa diolah menjadi bahan bakar seperti bensin dan solar.
Materi dari Get Plastic sendiri menjelaskan teknologi pirolisis mereka sebagai salah satu cara mengubah sampah plastik menjadi energi alternatif, dan laporan terbaru dari Bali juga menjelaskan hasil pengolahannya dalam bentuk bensin dan solar.
Tapi ada hal penting lain yang baru aku ketahui saat berkunjung.
Ternyata tidak semua jenis plastik bisa masuk ke mesin
Plastik harus dipilah terlebih dahulu.
PET atau plastik nomor 1 dipisahkan karena masih memiliki nilai yang baik untuk didaur ulang dengan cara konvensional. Sementara PVC atau nomor 3 tidak diproses karena kandungan klorinnya.
Jenis plastik seperti HDPE (#2), LDPE (#4), PP (#5), dan PS (#6) termasuk jenis yang dapat digunakan dalam proses pirolisis.
Papan informasi yang berisi jenis plastik yang bisa diolah di mesin Pirolisis
Jadi ternyata prosesnya tidak dimulai dari mesin.
Salah satu operator Get Plastic sedang melakukan proses memasukkan sampah plastik yang sudah dipilah sesuai jenisnya kedalam mesin Pirolisis
Prosesnya dimulai dari mengenali sampah kita dan memilahnya dengan benar.
Ini menjadi salah satu pelajaran kecil yang aku bawa pulang hari itu.
Dan ternyata tidak berhenti pada mesinnya
Hal lain yang semakin menarik perhatianku adalah Get Plastic tidak hanya membuat mesin lalu selesai.
Yayasan Get Plastic juga melakukan edukasi, pelatihan, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat, termasuk bekerja sama dengan komunitas, perusahaan, hotel, dan berbagai mitra lainnya.
Tujuannya adalah membantu masyarakat memahami pengelolaan sampah plastik sekaligus memastikan teknologi tersebut benar-benar bisa dimanfaatkan di tingkat lokal.
Jadi ketika sebuah komunitas atau perusahaan memiliki mesin Get Plastic, ada proses pembelajaran juga mulai dari bagaimana memilah sampah, mengoperasikan teknologi, sampai mengelola sistem pengolahan sampahnya.
Menurutku, di sinilah ceritanya menjadi jauh lebih besar daripada sekadar sebuah mesin.
Ini menjadi cerita tentang manusia dan teknologi yang bekerja bersama.
Dari sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat
Kami juga mendapat cerita bahwa bahan bakar yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik tersebut sudah digunakan dalam berbagai kegiatan nyata.
Salah satu yang menarik perhatianku adalah Prambanan Jazz Festival, di mana bahan bakar setara solar yang dihasilkan dari pengolahan sampah plastik digunakan untuk mendukung kebutuhan listrik selama acara berlangsung.
Aku langsung berpikir,
“Jadi sampah plastik yang dikumpulkan bisa kembali digunakan untuk mendukung sebuah acara besar?”
Menarik sekali.
Sampah plastik yang tadinya dianggap tidak berguna ternyata bisa melalui sebuah perjalanan panjang dikumpulkan, dipilah, diproses, diubah menjadi bahan bakar, lalu digunakan kembali.
Bahan bakar dari sampah plastik yang diolah dalam mesin Pirolisis
Dan ternyata masih ada kemungkinan lainnya. Material hasil prosesnya juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk seperti souvenir dan paving block.
Dan residu karbonnya juga bisa dimanfaatkan menjadi media tanam.
Kerajinan souvenir yang berbahan dasar dari residu karbon hasil proses pemanasan plastik
Jadi ketika berdiri di sana dan melihat mesin tersebut, sebenarnya aku tidak hanya sedang melihat sebuah mesin.
Aku sedang melihat sebuah gagasan yang berawal dari kepedulian seseorang terhadap masalah sampah plastik, kemudian berkembang melalui proses belajar dan berbagai percobaan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya menjadi sebuah teknologi yang sekarang dapat dimanfaatkan dan dibagikan kepada masyarakat.
Apa yang aku bawa pulang dari Get Plastic?
Aku datang ke Get Plastic sebagai seorang pengunjung.
Tapi aku pulang dengan cara pandang yang sedikit berbeda terhadap plastik.
Sebelum kunjungan ini, ketika melihat sampah plastik, pikiranku mungkin hanya:
“Ini harus dibuang.”
Sekarang aku justru berpikir:
“Sebelum menjadi masalah, apa yang bisa kita lakukan dengan sampah ini?”
Mungkin itu salah satu hal indah dari MUN 5 Bali.
Kami tidak hanya mengunjungi tempat-tempat baru.
Kadang, kami juga menemukan cerita di balik sebuah tempat.
Get Plastic sedang melakukan presentasi kepada peserta MUN5,Bali
Cerita tentang sebuah ide, sebuah komunitas, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus mencari solusi yang lebih baik.
Hari kedua di Get Plastic Bali memberiku sesuatu yang tidak aku duga—cara pandang baru terhadap sesuatu yang selama ini terlihat begitu biasa: sampah plastik.
Karena terkadang, sesuatu yang kita sebut sebagai sampah mungkin bukan benar-benar tidak berguna.
Mungkin kita hanya belum menemukan cara yang tepat untuk memanfaatkannya. ![]()
![]()
Terima kasih MUN 5 Bali dan Get Plastic Bali untuk pengalaman yang membuka wawasan ini.












