Batu Local Guides kembali sukses mengadakan acara Sumber7 GeoWalk pada tanggal 5 Nopember 2017 di obyek wisata alam Sumber Pitu. Acara yang diikuti oleh 18 local guide anggota dari komunitas Batu Local Guides dan Malang Local Guides ini, dimulai pada jam 7 pagi dengan titik kumpul di Kedai Ketan Patung Sapi Pujon. Dari sini, rombongan bergerak menuju pos pemeriksaan di desa Pujon Kidul yang berjarak sekitar 3,7km. Sebelumnya, tiket menuju Sumber Pitu harus dibeli disini. Tapi oleh dua orang penjaga diinformasikan bahwa tiket masuk bisa langsung dibeli di parkiran Sumber Pitu. Rombongan pun mulai bergerak, memasuki jalan tanah berbatu sepanjang 3km. Cuaca cukup cerah, jalannya pun kering sehingga cukup mudah dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Sesampainya di parkiran, kami membayar tiket masuk dan parkir yang relatif murah.
Setelah berhitung dan berdoa bersama, kami pun mulai berjalan menyusuri jalan tanah menuju Sumber Pitu. Hanya sesaat jalan ini landai, untuk kemudian langsung mendaki. “Nggak ada pemanasan, langsung tancap gigi satu” kata salah satu peserta. Jalan perlahan sambil diiringi gurauan ringan, membuat perjalanan menjadi meriah. Dua anak kecil yang ikut jalan kaki, Thalita (7 thn) dan Shalun (8 thn), berjalan penuh semangat paling depan. Sesekali keduanya harus dipanggil untuk berhenti agak tidak terlepas dari pengawasan. Setelah melewati kebun wortel dan sayur, kami sampai di pos peristirahatan pertama. Tanpa dikomando, seluruh perserta pun langsung beristirahat mengatur pernafasan. Beberapa di antaranya membuka perbekalan dan membagikan kue bikinan sendiri. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Setelah pos pertama ini, jalur yang dilalui cukup landai dan lapang. Di kanan diri, terlihat bukit-bukit yang hijau searah dengan tempat kami berdiri. Tidak terasa, kami pun sampai di pos kedua. Dari pos ini, jarak sudah tidak terlalu jauh lagi untuk sampai ke tujuan. Beberapa menit perjalanan memutari bukit, kami pun bisa melihat Sumber Siji. Air terjun pertama dari tiga air terjun yang ada di lokasi ini. Setelah berfoto bersama, kami melanjutkan perjalanan ke Sumber Pitu. Jalur ini yang paling berat, dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Disepanjang jalur, disediakan tali pengaman untuk berpegangan. Dengan napas terengah-engah, kami pun sampai di Sumber Pitu. Pemandangan luar biasa, air terjun yang berjajar-jajar sejumlah (sekitar) tujuh titik, mengingatkan saya kepada air terjun Tumpak Sewu yang ada di perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Di sini cukup ramai dengan pengunjung yang beristirahat dan berswafoto, sehingga kami putuskan untuk lanjut ke Sumber Papat. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya naik jalan bertangga sedikit dan memutari punggung bukit di sebelah Sumber Pitu. Lengkap sudah seluruh air terjun kami jelajahi, Sumber Siji, Sumber Pitu, dan Sumber Papat. Di sini kami berencana membuka perbekalan makan siang. Namun kondisi cuaca mulai gerimis, sehingga kami harus segera turun untuk mengantisipasi apabila hujan semakin deras. Di Sumber Pitu, kami sempatkan untuk berfoto bersama dan mulai merambat turun. Dari Sumber Siji, jalan agak mendaki. Ananda Thalita tiba-tiba terduduk dan pucat. “Pusing” jawabnya lemah ketika ditanya. Segera saya raih dan saya gendong di punggung. Dengan sedikit berlari, saya sampai di pos kedua diiringi hujan yang mulai lebat. Beberapa local guide yang sudah lebih dulu tiba, segera saya ajak untuk lanjut ke pos pertama yang lebih luas. Dengan pakaian yang mulai basah, kami pun sampai di pos kedua, diikuti oleh peserta yang datang berurutan. Di sini, peserta pun membuka perbekalan makan siang. Dengan berpiring kertas dan daun pisang, kami mulai menyantap makan siang. Lapar, basah, dan lelah, membuat makan siang kali ini terasa sangat nikmat. Dalam waktu singkat, seluruh makanan ludes. Ananda Thalita yang juga sudah menghabiskan makanannya, terlihat mulai kuat. Kami segera beriringan turun menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, sambil berteduh, kami memesan kopi panas di warung yang kebetulan buka di lahan parkir ini. Wajah-wajah yang basah oleh keringat bercampur air hujan, terlihat masih bersemangat menikmati minuman panas dan pisang goreng yang baru saja disajikan.
Kami sungguh bersyukur, bisa menyelesaikan acara kali ini tanpa suatu halangan yang berarti. Suatu kebahagiaan tersendiri bisa berjalan bersama para sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri, saling menolong, saling berbagi. Setelah puas beristirahat dan menikmati hidangan di warung yang sederhana ini, dengan berat hati, akhirnya kami pun harus berpisah untuk kembali ke tempat masing-masing. Semoga Tuhan tetap menjaga keselematan kami dan memberikan kami kesempatan untuk bertemu lagi di acara berikutnya, amin.
































