Hari ini, Sabtu tanggal 21 Nopember 2020, sepertinya akan menjadi hari istimewa bagi saya dan juga Local Guide yang ada di Banyuwangi. Mengapa? Karena hari ini akan menjadi penanda meet-up pertama kali Banyuwangi Local Guides, yang sekaligus menjadi kelahiran Banyuwangi Local Guides di tanah Blambangan.
Sesuai kesepakatan sebelumnya, untuk menuju Taman Gandrung Terakota Banyuwangi yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan dari Kota Banyuwangi, kami berjanji temu dengan titik kumpul di Patung Barong. Titik ini adalah titik yang paling strategis dari arah seluruh penjuru kota menuju Taman Gandrung Terakota Banyuwangi. Saya sampai pertama kali di titik ini, setengah jam sebelum jam yang telah ditentukan. Di landmark yang satu ini, tidak banyak yang bisa difoto, karena titiknya hanya berupa patung barong di tepi jalan raya. Tidak ada taman ataupun fasilitas lainnya di sekitar patung tersebut. Sebelum titik ini, saya melihat ada sebuah tempat ngopi di seberang sungai. Official Gen’k namanya. Sepertinya cukup menarik. Saya cek di Google Maps, jam bukanya masih jam 3 sore. Aww, masih lamoooo. Namun ketika saya lewat tadi, sepertinya ada dua tiga orang yang sedang nongkrong. Tanpa pikir panjang, saya pun bergegas menuju tempat tersebut. Ternyata, pagi itu tempat tersebut memang sudah buka, karena sebentar lagi ada acara pertemuan suatu komunitas. Saya pun memesan kopi arabica dicampur susu, sambil menunggu Local Guide lain yang belum datang. Tidak menunggu lama, kopi pesanan saya pun datang. Hmmm, aromanya saya suka, ditambah suasana teduh dan penataan ruang outdoor yang apik, membuat pagi itu benar-benar nikmat. Tidak cukup sampai di situ, bapak-bapak yang tadinya duduk di teras tidak jauh dari posisi saya duduk, datang memberikan kacang rebus yang masih hangat. Sungguh beruntung saya. Kami pun berbincang-bincang santai bertukar pikiran sambil menikmati kopi dan kacang rebus, hingga datangnya tiga local guide dari Banyuwangi. Setelah berkenalan dan berfoto bersama di tempat ini, kami pun berangkat menuju Taman Gandrung Terakota Banyuwangi.
Dengan bantuan Google Maps, tidak sulit menemukan tempat yang satu ini, berjarak sekitar 500 meter dari jalan raya menyusuri jalan yang sudah dipaving sampai di tempat parkir Taman Gandrung Terakota Banyuwangi. Tiket masuknya 10.000 rupiah, dengan sebelumnya dicek terlebih dahulu suhu tubuh untuk memastikan setiap pengunjung tidak sedang demam tinggi sebagai salah satu gejala Covid-19. Setelah semua dicek dan dipastikan normal, kami masuk ke area Taman Gandrung Terakota Banyuwangi. Tempat pertama yang kami masuki adalah semacam pusat oleh-oleh. Di sini terdapat berbagai jenis oleh-oleh untuk pengunjung, mulai dari baju batik khas Banyuwangi, udeng / penutup kepala, syal, dan pernik-pernik lainnya. Saya tertarik dengan udeng dan membeli salah satu yang saya suka warnanya. Dari sini, kami bergeser ke atas. Di tengah-tengah taman, ada dua orang penari gandrung yang sedang diambil fotonya. Saya pun tidak melewatkan kesempatan itu dan mohon ijin untuk ikut mengambil gambar. Dengan busana tradisional dan dandanan yang cantik, kedua penari tersebut tampak anggun dan mempesona. Setelah puas mengambil gambar, kami diarahkan untuk menuju Sanggar Tari Taman Gandrung Terakota Banyuwangi. Di sini, akan dipertunjukkan Tari Gandrung Bayuwangi oleh dua orang penari tadi. Kami dipersilahkan duduk di atas bantal-bantal yang telah disusun di lantai dengan jarak aman dari penonton lainnya. Setelah diberikan penjelasan singkat tentang apa dan bagaimana Taman Gandrung Terakota, tarian pun dimulai. Kami berempat bersama beberapa pengunjung lainnya sungguh menikmati pertunjukan tersebut. Apalagi setelahnya, kedua penari tersebut mengajak penonton untuk menari bersama. Heboh sudah suasana siang itu.
Setelah puas mengabadikan pertunjukan tari Gandrung, kami bergeser ke gedung sebelahnya, yang menyimpan beberapa karya seni lukisan penari Gandrung dari beberapa seniman Banyuwangi. Lukisan yang luar biasa, terlihat dari detail, warna, dan hidupnya lukisan tersebut ketika kami mengamatinya satu persatu. Dari sini kami bergeser ke Java Banana, resto unik bernuansa tradisinal yang menawarkan berbagai menu makanan tradisional. Di sebelahnya, terdapat puluhan, bahkan ratusan patung penari gandrung yang berjajar hingga ke tepi sawah. Merinding saya membayangkan seluruh patung ini bisa benar-benar hidup dan menari bersama, sebagaimana pertunjukan yang menurut informasi selalu ada di Amphi Thater di sebelahnya sebelum masa pandemi Covid-19. Semoga pertunjukan itu bisa ditampilkan kembali dan saya memiliki kesempatan untuk menontonnya. Di bagian bawah, terdapat Rumah Coklat yang menawarkan beberapa jenis kopi andalan Banyuwangi dan juga makanan ringan. Tepat di bawah bangunan ini, terdapat juga puluhan patung penari gandrung dalam posisi berendam di semacam telaga. Sebagian hanya terendam bagian bawah tubuh. Sebagian lagi, hanya tampak kepalanya saja. Di sini kami sempatkan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati roti yang dibawa oleh mas Munir, local guide yang berasal dari daerah Muncar.
Setelah cukup beristirahat, kami pun menyudahi jelajah foto di tempat ini. Namun sepertinya kami masih belum puas. Local guide lainnya, pasangan Arynd dan Sigit, mengajak ke satu cafe yang berada di kaki Gunung Ijen, berjarak sekitar 7 kilometer dari tempat kami berada saat ini, menyusuri perkebunan yang tertata rapi di kanan kiri jalan jalan. Semakin ke atas, hawa dingin pun terasa, hingga kami sampai di kafe ‘farel’. Cafe ini cukup sederhana namun ramai pengunjung, dengan hampir semua tempat duduk berbahan dasar kayu dan bambu, dan berlantai tanah. Namun, suasana yang ditawarkan di sekitar cafe ini memang indah. Kami pun memesan beberapa makanan dan minuman. Sambil ngobrol santai membicarakan ke-localguide-an kami, saya mengambil gambar dari beberapa titik cafe. Ketika makanan pesanan kami datang, semua tak luput dari jepretan kamera. Tak terasa, semua makanan ludes dalam waktu singkat. Setelah puas menikmati suasana di cafe ini, kami pun bersiap untuk pulang kembali ke Banyuwangi.
Meski cuma berempat, acara hari ini sungguh istimewa. Sekali lagi, program Local Guide mempertemukan kami semua. Terimakasih kepada mas Munir yang telah jauh-jauh datang dari Muncar, pasangan asyik Arynd dan Sigit, yang telah hadir dan menjadi saksi pertemuan perdana Banyuwangi Local Guides hari ini. Semoga, semakin banyak yang bergabung dalam meet-up berikutnya.
Behind the scene : Bagaimana saya bisa bertemu dengan Local Guide di Banyuwangi, meski belum pernah kenal sebelumnya?
Ya, saya memakai metoda yang cukup sederhana. Sebelum saya berangkat ke Banyuwangi, saya buka Banyuwangi di Google Maps. Saya buka beberapa destinasi wisata dan saya buka satu persatu akun berlabel Local Guide yang sudah menulis ulasan. Kemudian saya cocokkan dengan akun di Facebook. Ketika saya yakin itu adalah orang yang sama, saya add pertemanan dan saya tuliskan pesan memastikan keyakinan saya. Alhasil, saya bisa berkomunikasi dengan beberapa di antaranya. Akhirnya, jadilah kami bersepakat untuk mengadakan meet-up kecil di Taman Gandrung Terakota Banyuwangi.


